Jember di Peta Dunia: Dari Desa Tembakau ke Pesaing Cerutu Global
Di tengah hiruk-pikuk industri tembakau global yang didominasi cigar Kuba dan Dominika, sebuah desa kecil di Jember, Jawa Timur, diam-diam menancapkan bendera. Produk local dari BIN Cigar kini telah menembus international di 14 negara, mulai dari Eropa hingga Timur Tengah. Ini bukan sekadar ekspor, tapi pergeseran arah: dari pemasok raw menjadi produsen premium yang disegani.
Kunci kesuksesan terletak pada quality tembakau Besuki Na-Oogst yang legendaris—dikenal karena aroma dan flavor yang tak bisa ditiru. Dikombinasikan dengan keterampilan perajin lokal yang melinting satu per satu secara manual, setiap batang cerutu menjadi karya tangan yang bernilai tinggi. Seperti dikatakan Bambang Soesatyo, kombinasi ini adalah modal besar untuk bersaing di kancah global.
Dampaknya tak hanya soal economy , tapi juga martabat industri dalam negeri. Pada 2023, ekspor tembakau Jember mencapai 3 juta kilogram dengan nilai 31,9 juta dolar AS—angka yang menunjukkan kontribusi nyata terhadap national . Sektor ini juga padat karya, melibatkan petani, pemroses, hingga pengrajin linting, menciptakan employment yang luas di daerah.
Namun, masa depan cerutu Indonesia tak bisa hanya andalkan reputasi bahan baku. Diperlukan strategy branding yang kuat, standardisasi quality , dan perluasan market secara simultan. Dukungan kebijakan seperti penahanan tarif cukai di 2026 membuka ruang napas bagi industri tumbuh. Seperti kata Bamsoet: Jember suatu hari nanti bisa setara dengan Havana—bukan mimpi, tapi proyeksi yang sedang berjalan.
Akhirnya hasil kerja keras petani diakui. Semoga harga beli tembakau juga naik, bukan cuma export ekspor yang naik.
Saya sudah coba BIN Cigar, rasa Jember memang beda. Tapi apakah bisa konsisten tiap batch?
Ini contoh nyata hilirisasi yang berhasil. Tapi jangan lupa, perlu perlindungan dari impor ilegal.
Bangga! Dari desa ke dunia. Jember bukan cuma kota pendidikan, tapi juga kerajinan dunia.
Di Eropa, orang masih mikir cerutu itu cuma Kuba. Butuh kampanye global biar dikenal.
Apakah anak muda akan tertarik jadi perajin? Atau ini hanya tren jangka pendek?
Rahasia ada di proses pengeringan. Di Jember, masih pakai angin dan sinar matahari alami.
31,9 juta dolar AS dari 3 juta kg? Berarti harga rata-rata ekspor sekitar 10,6 dolar per kg. Cukup kompetitif.