Iran Tolak Keras Pembatasan Pengayaan Uranium, Tegangan Global Kembali Meningkat
Tegangan internasional kembali memanas setelah kepala badan energi nuklir Iran, Mohammad Eslami, secara tegas menolak segala bentuk restriction terhadap program pengayaan uranium negaranya. Dalam pernyataan yang dikutip ISNA News Agency, Eslami menyebut tuntutan Amerika Serikat dan Israel sebagai angan-angan yang "akan terkubur", menegaskan bahwa decision soal program nuklir berada sepenuhnya di tangan Teheran.
Pernyataan keras ini muncul menjelang negotiation yang dimediasi Pakistan antara AS dan Iran, yang rencananya digelar akhir pekan ini. Eslami menuduh musuh-musuh Iran mencoba mencapai melalui meja talk apa yang gagal mereka raih lewat konflik militer, termasuk serangan gabungan AS-Israel pada Februari lalu yang membombardir fasilitas nuklir Iran selama 12 hari pada Juni 2025. Meski klaim Tel Aviv dan Washington menyebut kemampuan pengayaan hancur, keberadaan material nuklir seperti ratusan kilogram uranium sangat diperkaya masih menjadi misteri.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebelum perang melaporkan bahwa Iran telah memperkaya uranium hingga 60 persen — jauh melebihi batas 3,67 persen dalam kesepakatan nuklir 2025 yang kini batal. Level ini mendekati 90 persen, ambang yang dibutuhkan untuk membuat nuclear weapon . Namun Iran bersikeras programnya murni untuk tujuan civilian , menolak tuduhan Barat yang meragukan niat damainya.
Presiden AS Donald Trump, yang sebelum konflik menyatakan "tidak akan ada pengayaan uranium" oleh Iran, kini menyarankan kerja sama untuk recover dan mengamankan material nuklir yang terkubur di reruntuhan fasilitas yang dibom. Tapi dengan trust yang hancur dan pressure geopolitik yang terus meningkat, jalan menuju kesepakatan tampak semakin sempit — terutama ketika satu-satunya response Iran adalah penolakan yang tegas dan berulang.
Kalau material nuklir masih ada di bawah reruntuhan, bukankah itu justru risk risiko besar bagi lingkungan?
AS dulu keluar dari kesepakatan, lalu bom fasilitasnya, sekarang minta kerja sama? Kemunafikan klasik.
Mereka bilang untuk keperluan sipil, tapi enrichment level tingkat pengayaan 60 persen? Itu jelas bukan untuk listrik.
Tapi lihat juga dari sisi Iran. Mereka merasa terancam, jadi ingin punya deterrent penghalang.
Mediasi Pakistan? Menarik. Posisi netral bisa jadi chance kesempatan terakhir.
Setiap kali ada talk perundingan, selalu diawali dengan pernyataan keras. Ini pola lama yang tak pernah change berubah.