Teknologi Masuk Sekolah: Antara Janji dan Kesenjangan
update dunia digital datang begitu cepat, dan tekanan mulai terasa di ruang-ruang kelas. Di Surabaya, ratusan representative sekolah dari berbagai level berkumpul dalam forum discussion yang menegaskan satu pesan: pendidikan harus bergerak cepat mengikuti arus teknologi. Acara Digital Update: Advancing Digital Education for School Leaders, diselenggarakan oleh Purchasing Days, menjadi jembatan antara dunia industri, bisnis, dan pendidikan — sebuah ecosystem kolaboratif yang mulai diujicobakan secara nyata.
technology , kata Tony Antonio, mantan Rektor Universitas Ciputra Surabaya, adalah keniscayaan. Tapi meski tak bisa dihindari, gap masih nyata, terutama antara kota besar dan kecil. Luasnya wilayah Indonesia, infrastruktur yang belum merata, dan penyebaran yang lambat membuat education digital belum menyentuh semua lapisan. "Pemerintah, bisnis, dan dunia pendidikan mengalami kesulitan," katanya — sebuah statement yang mencerminkan tantangan national yang kompleks.
Namun ada opportunity besar jika kemajuan ini dimanfaatkan. Leon Rumambi dari PT Visiniaga Mitra Kreasindo menekankan bahwa pemerintah sudah memberi facility dan program untuk memperluas akses. Kini tinggal pada decision sekolah — negeri maupun swasta — untuk mengejar ketinggalan. Teknologi bukan cuma soal kecepatan learning , tapi juga efisiensi sumber daya dan peningkatan quality pengajar serta pimpinan sekolah.
Di sisi lain, Ari Budiharto Soetjitro dari PT Mitra Zona Adiperkasa (Digimap) menawarkan pandangan berbeda: infrastruktur sebenarnya bukan lagi barrier . Dengan internet yang bisa menjangkau hampir semua daerah, koneksi bukan isu utama. "Aku rasa seharusnya tidak ada perbedaan lagi," ujarnya, menekankan bahwa access ke pendidikan berkualitas harusnya sudah equal , tanpa memandang lokasi. Tantangan kini bukan teknis, tapi soal response dan penerapan yang cepat dan bijak.
Setuju, tapi infrastructure infrastruktur listrik dan jaringan di pedalaman masih sering mati. Kenyataan itu sulit diabaikan.
Kami butuh lebih dari sekadar support dukungan moral. Pelatihan nyata, bukan hanya seminar satu hari.
Internet memang menjangkau banyak tempat, tapi quality kualitas sinyalnya? Jangan lupa itu juga bagian dari akses.
Senang lihat ada initiative inisiatif seperti ini. Anak-anak muda harus siap untuk dunia yang berubah.
Kesenjangan digital bukan cuma soal alat, tapi juga cara berpikir. Ada sekolah yang dapat bantuan tapi malah dikunci di gudang.
Teknologi tanpa training pelatihan yang baik sama saja dengan senjata tanpa amunisi.
Harus diawasi juga, jangan sampai teknologi malah menambah beban cost biaya untuk orang tua.