Piala AFF Masih Jadi Jantung Sepak Bola Asia Tenggara — Tapi Bisa Membawa ke Mana?
Di tengah hiruk-pikuk sepak bola global, satu turnamen lama masih menempel kuat di hati penggemar Asia Tenggara: aff . Meski kini FIFA merancang kompetisi ASEAN versi baru, pengamat nasional Supriyono Prima bersikeras bahwa ajang yang sudah bergulir sejak 1996 itu belum usang. Baginya, ini bukan sekadar turnamen regional, melainkan stepping stone menuju level yang lebih tinggi. 'Ada Pos 1, ada Pos 2,' katanya, menggambarkan perjalanan karier pemain muda yang bisa naik dari domestic league ke tim nasional melalui ajang ini. Bagi Supriyono, Piala AFF adalah penyaring alami—di mana kualitas pemain benar-benar diuji di bawah tekanan.
Pengalaman pribadinya di Piala AFF 1996 bukan sekadar kenangan. Ia melihat turnamen ini sebagai proses panjang yang tak bisa dilewati begitu saja. 'Nanti kan ada lagi turnamen ASEAN dari FIFA, lalu Piala Asia 2027, terus menuju Piala Dunia 2030,' ujarnya. Kalimat itu bukan sekadar prediksi, tapi roadmap yang jelas bagi generasi pemain sekarang. Setiap pertandingan di Piala AFF, katanya, adalah opportunity melihat di mana letak mental juara dan seberapa dalam skill level mereka. Bagi pelatih dan manajemen tim, ini adalah evaluasi hidup yang tak bisa digantikan latihan di lapangan latih.
Kini, pelatih Timnas Indonesia John Herdman mulai membangun fondasi itu. Ia memanggil 23 pemain untuk training camp (TC) yang akan berlangsung di Jakarta pada 26-30 Mei. Mayoritas berasal dari top tier Liga Indonesia—alias Super League. Hanya satu nama yang tampil berbeda: Marselino Ferdinan, yang kini plays abroad bersama AS Trencin. Kehadirannya bisa jadi simbol harapan: bahwa pemain lokal bisa bersaing di luar. TC awal ini hanya awal; dengan jeda dua bulan sebelum Piala AFF 2026, further preparation hampir pasti akan menyusul dengan komposisi berbeda.
Piala AFF 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung dari 24 Juli hingga 26 Agustus. Indonesia tergabung di Grup A bersama Vietnam, Singapura, Kamboja, dan pemenang playoff antara Brunei Darussalam atau Timor Leste. Lawan-lawan ini bukan pushover , dan sejarah pertemuan menunjukkan tensi tinggi. Tapi justru di sinilah nilai turnamen ini terletak: sebagai ajang pembuktian yang sesungguhnya. Bukan hanya buat pemain, tapi juga buat sistem pembinaan sepak bola nasional. Apakah kita benar-benar progressing , atau hanya berputar di tempat? Piala AFF bisa menjawabnya.
Dulu nonton AFF 1996 masih pakai TV tabung. Sekarang anak-anak nonton lewat streaming aplikasi. Tapi semangatnya masih sama.
Mental juara itu penting, tapi jangan lupa gizi dan tidur yang cukup juga pengaruh ke performa.
TC cuma lima hari? tight schedule Jadwal ketat banget. Harus fokus banget dari hari pertama.
Seneng liat Marselino dipanggil. Harapan overseas player pemain luar negeri buat bawa pengalaman ke timnas.
Vietnam dan Singapura selalu jadi batu sandungan. Tapi kalau main kolektif, bukan tidak mungkin kita lolos.
FIFA bikin turnamen ASEAN baru? Terus AFF mau dikubur? Jangan deh.
Piala AFF itu ikonik. Lebih berdarah-darah daripada kualifikasi Piala Dunia level ASEAN.
Anak saya umur 6 tahun, tapi sudah hafal lagu dukung Indonesia di AFF. Tradisi yang terus hidup.