Zelensky Marah Trump Longgarkan Sanksi Minyak Rusia
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyampaikan criticism tajam terhadap keputusan Amerika Serikat yang melonggarkan sanction minyak Rusia. Dalam unggahan di platform X pada Minggu (19/4), Zelensky menegaskan bahwa pendapatan dari minyak Rusia adalah engine utama perang yang menghancurkan Ukraina, mengingatkan dunia bahwa setiap dolar yang mengalir ke sektor energi Moskow berubah menjadi rudal dan serangan.
Langkah pemerintahan Donald Trump memperpanjang dispensasi sanksi selama satu bulan mengejutkan banyak pihak, terutama karena hanya dua hari sebelumnya Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan bahwa kebijakan tersebut tidak akan diperbarui. Keputusan ini memungkinkan penjualan minyak dan produk minyak bumi Rusia yang sedang dalam perjalanan di laut, termasuk dari lebih dari 110 kapal tanker yang membawa lebih dari 12 juta ton minyak mentah. Zelensky menyebut nilai ini setara dengan revenue $10 miliar yang langsung mengisi kotak perang Moskow.
Kebijakan ini diduga kuat dipicu oleh pressure politik domestik menjelang pemilihan paruh waktu. Lonjakan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah telah menekan biaya bahan bakar, dan pemerintahan Trump tampaknya memilih relief jangka pendek bagi konsumen ketimbang menegakkan sanksi secara konsisten. Namun, langkah ini menuai backlash tidak hanya dari Kyiv, tetapi juga dari politisi internal AS, terutama Partai Demokrat.
Senator Jeanne Shaheen, Chuck Schumer, dan Elizabeth Warren mengeluarkan pernyataan bersama yang menyebut keputusan itu sebagai tindakan memalukan dan merusak credibility AS di mata sekutu. Hubungan antara Zelensky dan Trump tetap tense , meskipun Ukraina masih sangat bergantung pada dukungan militer dan finansial Amerika. Di tengah tuntutan damai dari Washington, Kyiv merasa dikorbankan demi keuntungan domestik yang bersifat sementara.
Setiap kali ada price surge kenaikan harga, AS selalu mundur dari komitmennya. Ini bukan soal ekonomi, tapi soal prinsip.
Zelensky benar—uang dari minyak Rusia langsung jadi peluru. Kita tidak boleh tutup mata hanya karena harga bensin naik sedikit.
AS dulu yang paling vokal soal sanksi, sekarang malah undermine melemahkan posisinya sendiri. Ini contoh nyata hipokrisi geopolitik.
Bayangkan, $10 miliar dari minyak ilegal. Itu bukan angka kecil—itu massive sangat besar bahkan untuk negara kaya.
Kenapa Trump tidak cari solusi lain? Bukannya menekan harga, malah bantu musuh sekutu. Ini short-term jangka pendek banget berpikirnya.
Sanksi energi memang selalu mudah dikorbankan. Tapi apakah kestabilan global harus terus dikorbankan demi siklus politik domestik?