Ikuti RI, Malaysia Gabung Jejaring Negara 'Pemburu' Minyak Rusia
Malaysia resmi bergabung dengan sejumlah negara Asia Tenggara yang kini seeking pasokan minyak dari Rusia, menyusul ketegangan energi global yang memburuk akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel terhadap Iran. Langkah ini menempatkan Malaysia dalam barisan yang sama dengan Indonesia, Filipina, dan Vietnam, yang telah lebih dulu menjalin komunikasi atau bahkan menandatangani kesepakatan dengan Moskow untuk memastikan supply energi tetap stabil di tengah gejolak pasar dunia.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengumumkan bahwa perusahaan minyak nasional, Petronas, sedang bersiap untuk negotiate langsung dengan Rusia demi mengamankan minyak mentah. Menurutnya, hubungan diplomatik yang tetap strong dengan Moskow menjadi keuntungan strategis, terutama saat banyak negara Barat yang sebelumnya menjatuhkan sanksi kini justru ikut bersaing membeli minyak Rusia. "Tim Petronas dapat bergerak cepat karena tidak terhalang sanksi," tegas Anwar.
Salah satu capaian awal Malaysia adalah keberhasilan kapal tanker minyak Petronas melewati critical di Selat Hormuz dan tiba dengan selamat di Kompleks Terintegrasi Pengerang pada 17 April lalu. Pengiriman ini disebut sangat crucial karena proses pemurnian hanya bisa dilakukan di lokasi tersebut. Upaya diplomatik ini membantu mencegah gangguan besar terhadap rantai pasokan energi di Malaysia, yang saat ini masih aman hingga akhir Juni menurut laporan resmi Petronas.
Langkah serupa juga diambil negara tetangga. Indonesia telah mencapai kesepakatan jangka panjang dengan Rusia setelah kunjungan Presiden Prabowo ke Moskow, sementara Filipina meminta dispensasi dari AS untuk tetap membeli minyak Rusia. Vietnam pun telah menandatangani kerja sama energi setelah kunjungan Perdana Menteri Pham Minh Chinh ke Rusia. Di tengah competition global untuk sumber daya, negara-negara Asia Tenggara kini bergerak cepat mengamankan kebutuhan domestik, menunjukkan pergeseran geopolitik yang nyata di kawasan.
Jadi semua negara bilang sanksi, tapi diam-diam beli minyak Rusia? Kelihatan banget hypocrisy hipokrisi global di sini.
Petronas lewat Selat Hormuz itu langkah bold berani, apalagi dengan situasi sekarang. Tapi memang nggak ada pilihan lain kalau pasokan harus jalan.
Kita harus akui ini soal survival kelangsungan hidup ekonomi, bukan ideologi. Energi dulu, urusan politik belakangan.
AS marah ke Iran, tapi negara-negara Asia malah makin dekat sama Rusia. Ironis banget sih.
Kapan kita mulai serius soal energi terbarukan? Masih terlalu dependent bergantung pada minyak, padahal risikonya jelas.
Ini bukan cuma soal harga, tapi soal access akses. Siapa yang bisa lewat Selat Hormuz dulu, dia yang menang.
Harusnya kita juga diversify mengalihkan pasokan, jangan cuma andalkan satu sumber. Dunia makin tidak stabil.