Premiere Film "Songko" Dihadiri Yulius Selvanus, Sorak Riko Acuuu Bergema di XXI Manado
Gala premiere film horor "Songko" resmi digelar di XXI Mantos 3, Manado, pada Minggu (19/4/2026) malam, menandai debut layar lebar sutradara Gerald Mamahit. Acara ini menjadi sorotan setelah dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, serta disambut dengan enthusiasm tinggi dari penonton yang hadir langsung.
Film ini terinspirasi dari folklore Indonesia Timur, khususnya legenda dari Minahasa dan Tomohon. Sebagai hasil kolaborasi Dunia Mencekam Studio dan Rumah Produksi Santara, "Songko" bukan hanya karya seni, tetapi juga initiative untuk membangkitkan industri kreatif lokal. Gerald Mamahit menekankan bahwa film ini adalah step awal untuk menunjukkan potensi besar sumber daya manusia dan alam di Sulawesi Utara.
Yulius Selvanus memuji kualitas visual film yang mampu menangkap beauty alam Minahasa Raya. Ia menyebut pentingnya professional packaging agar potensi daerah bisa bersaing secara nasional. Dukungan terhadap karya seperti "Songko", katanya, harus terus diperkuat agar industri kreatif bisa progress dan berkelanjutan.
Salah satu momen paling menggelegar dalam acara itu adalah kehadiran Stefi Riko Koraag, pemeran sekaligus koreografer dan desainer kostum karnaval terkemuka. Penonton langsung bersorak dengan teriakan khas "Riko Acuuu, I love you", yang berasal dari program live streaming Marapthon. Bagi banyak anak muda, kehadirannya bukan sekadar hiburan, tetapi juga inspiration untuk terus berkarya di bidang kreatif.
Senang sekali melihat film dari daerah kita mulai mendapat recognition pengakuan. Semoga ini jadi awal yang baik!
Riko Acuuu memang selalu bikin energy energi acara jadi hidup. Tapi saya penasaran, bagaimana distribusinya nanti ke luar Sulut?
Yang penting bukan cuma nuansa daerahnya kental, tapi juga kualitas cerita dan execution eksekusi filmnya solid.
Dari teaser-nya saja sudah terasa atmosphere suasana mistisnya. Saya yakin ini bisa tembus festival film nasional.
Gubernur datang, antusiasme publik tinggi, tapi jangan sampai cuma jadi hype semata. Harus ada dukungan nyata setelah ini.
Ini contoh bagus bagaimana budaya lokal bisa jadi asset aset besar bukan cuma untuk film, tapi juga pariwisata.