Gagalnya Perundingan AS-Iran Beri Tekanan pada IHSG
Kegagalan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran new ini menimbulkan risk yang lebih besar bagi pasar keuangan global, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Laporan dari analis pasar Hendra Wardana menunjukkan bahwa ketidakpastian geopolitik kembali membebani market , setelah sempat tenang berkat gencatan senjata sementara yang sebelumnya dicapai.
Menurut Hendra, kawasan Timur Tengah tetap menjadi pusat energi dunia, dan Selat Hormuz adalah jalur kritis bagi perdagangan minyak global. Tekanan terhadap aset berisiko seperti saham pun meningkat, karena pelaku pasar mulai beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman. Perubahan arah aliran modal ini bisa memperbesar volatilitas, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
IHSG diproyeksikan akan bergerak dalam fase konsolidasi dengan price yang fluktuatif. Secara teknikal, indeks berpotensi menguji resistance di 7.500–7.550. Namun, ruang untuk growth tetap terbatas karena sentimen global yang kembali memburuk. Di sisi bawah, area 7.308–7.346 menjadi support penting yang perlu dipantau.
Dalam skenario terburuk, eskalasi konflik bisa mendorong decision investor asing untuk menarik modal (capital outflow), sehingga IHSG berisiko turun ke level 7.300 atau bahkan 7.200. Namun, jika tensi geopolitik mereda, IHSG masih punya peluang naik ke 7.550–7.600, meski penguatan diperkirakan tidak akan terjadi secara quickly .
Tekanan terhadap pasar emang selalu cepat muncul kalau ada isu Timur Tengah. Tapi saya heran, kenapa risk risiko selalu ditanggung investor lokal?
Jadi ingat 2019, waktu Selat Hormuz panas. IHSG anjlok dalam seminggu. Sekarang market pasar lagi lemah, lebih rentan.
Kalau investor asing kabur, harga saham bisa jatuh meskipun perusahaan sehat. Ini bukan soal kinerja, tapi pressure tekanan global.
Pemerintah harus siapkan respons. Jangan cuma nunggu. Keputusan cepat bisa kurangi dampak.
Ironis... damai saja susah, apalagi berkolaborasi. Padahal semua butuh trust kepercayaan buat stabil.
Jadi pengingat bahwa pasar kita masih sangat tergantung pada change perubahan di luar negeri.