Trump Kembali Sentil Paus Leo
Ketegangan new antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Paus Leo XIV kembali mencuat setelah sang presiden secara terbuka mengkritik pemimpin spiritual Katolik tersebut. Dalam serangkaian pernyataan di Truth Social dan wawancara dengan wartawan, Trump menyebut Paus Leo 'lemah' dan 'buruk untuk kebijakan luar negeri', terutama karena penentangannya terhadap potensi konflik militer dengan Iran.
Trump menekankan bahwa dirinya tidak takut menghadapi ancaman nuklir dari Iran, dan menilai sikap Paus yang menyerukan perdamaian justru membahayakan security global. "Dia adalah orang yang tidak berpikir bahwa kita harus bermain-main dengan negara yang menginginkan senjata nuklir, sehingga mereka dapat meledakkan dunia," ujar Trump, menegaskan decision keras terhadap kebijakan luar negeri yang agresif.
Namun, Paus Leo tidak mundur. Saat dalam perjalanan ke Aljazair untuk kunjungan bersejarah ke Afrika, ia dengan tenang menyatakan bahwa misi Gereja bukan politik, melainkan perdamaian. "Saya bukan seorang politikus. Saya tidak berniat untuk berdebat dengannya. Pesannya masih sama: untuk mempromosikan perdamaian," tegasnya, menunjukkan public trust sebagai fondasi perannya, bukan kekuasaan politik.
Respons internasional pun muncul. Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan support penuh terhadap Paus Leo, menganggap kritik Trump sebagai bentuk ketidakhormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Ghalibaf menyebut ucapan 'saya tidak takut' dari Paus sebagai impact moral yang menginspirasi jutaan orang, terutama dalam konteks penolakan terhadap kekerasan terhadap warga sipil.
Trump selalu bawa isu keamanan, tapi justru menciptakan tension ketegangan yang lebih besar. Ini bukan soal Iran, tapi soal ego.
Paus bilang 'saya tidak takut' — kalimat kecil yang penuh courage keberanian. Di tengah tekanan politik, suara moral masih ada.
Jadi Paus asal AS malah dikritik karena tidak dukung Trump? Ironi. Ini bukan soal agama, tapi pressure tekanan politik yang terang-terangan.
Iran dukung Paus? Jelas ini manuver geopolitik. Tapi setidaknya mereka pakai isu human rights hak asasi manusia sebagai alat retorika.
Trump kira Gereja bagian dari kabinetnya? Paus bukan staf yang bisa dikritik karena beda opinion pendapat.
Kalau pemimpin agama saja harus tunduk pada kekuasaan politik, lalu siapa yang akan bicara soal justice keadilan?