Korea Utara Uji Coba Kemampuan Dual Strike di Kapal Perusak Choe Hyon Class, Tandai Lompatan Strategi Maritim
Angkatan Laut Korea Utara (KPN) telah menunjukkan new dalam modernisasi armadanya melalui live-fire drill di lepas pantai barat pada 12 April 2026. Dalam manuver yang diawasi langsung oleh Kim Jong Un, kapal perusak kelas Choe Hyon berhasil meluncurkan rudal jelajah strategis dan rudal anti-kapal secara bersamaan—sebuah demonstration kemampuan tempur ganda yang menandai pergeseran besar dalam doktrin maritim Pyongyang.
Kapal seberat 5.000 ton dengan panjang hampir 145 meter ini bukan lagi kapal patroli pesisir biasa, melainkan warship besar yang dirancang untuk operasi jarak jauh. Dibangun di galangan Nampo dan Hambuk, kehadiran dua unit yang sudah aktif—dengan dua lainnya dalam construction —menunjukkan komitmen Korea Utara terhadap kekuatan laut yang lebih ofensif dan terkoordinasi. Ini adalah change strategis dari pertahanan lokal menuju proyeksi kekuatan.
Yang paling mencolok adalah pemasangan sistem peluncur vertikal (VLS) dengan kapasitas hingga 88 sel, memungkinkan kapal membawa berbagai jenis rudal secara fleksibel. Menurut laporan, sistem ini mendukung rudal jelajah jarak jauh dan rudal pencegat permukaan-ke-udara (SAM), menunjukkan peningkatan besar dalam capability tempur. Kapal juga dilengkapi sistem Pantsir-M, kanon gatling 30 mm, artileri 127–130 mm, serta tabung torpedo 533 mm dan sonar untuk perang bawah air—sebuah response komprehensif terhadap ancaman multidimensi.
Yang membuat latihan ini kian mengkhawatirkan adalah precision dan ketahanan sistem terhadap gangguan elektronik. Rudal jelajah dilaporkan bertahan di udara hingga 8.000 detik, sementara rudal anti-kapal terbang selama 2.000 detik sebelum menghantam target dengan akurasi tinggi. Dengan dukungan advanced sensor dan radar phased array, kapal ini mampu melacak banyak target sekaligus. Kehadiran dek penerbangan untuk helikopter atau drone pun menambah lapisan threat terhadap stabilitas kawasan.
Ini bukan cuma soal weapons senjata, tapi soal strategy strategi. Dengan kapal sebesar ini, mereka bisa operasi lebih jauh dan lebih lama. Risiko di Selat Korea makin nyata.
88 sel VLS itu jumlah besar untuk kapal seukuran ini. Artinya, mereka punya flexibility fleksibilitas tinggi dalam misi—bisa serang darat, tangkal udara, atau hancurkan kapal musuh.
Kenapa selalu ada escalation eskalasi begini pas ada ketegangan global? Ini jelas bukan kebetulan. Tekanan politik makin intense intens.
Fokus pada peperangan elektronik dan anti-jamming itu tanda mereka belajar dari konflik modern. Rudal yang bisa tembus gangguan itu ancaman serius.
Saya khawatir ini bakal picu arms race perlombaan senjata baru di Asia Timur. Negara tetangga pasti akan respond merespons dengan peningkatan pertahanan.
Dek helikopter di kapal ini menunjukkan mereka ingin kontrol airspace ruang udara juga. Bukan cuma laut—tapi udara di atasnya.