Setelah Hantam Barcelona, Atlético Madrid Terpeleset Lagi di La Liga
Kemenangan 2-0 atas Barcelona di Camp Nou seharusnya menjadi momen kebanggaan bagi Atlético Madrid, terutama karena diraih di leg pertama perempat final Liga Champions. Namun, euforia kemenangan itu cepat memudar setelah mereka kembali mengalami risk kekalahan dalam laga domestik.
Pada Sabtu malam, Atlético harus menyerah 1-2 dari Sevilla di pekan ke-31 La Liga. Hasil ini memperpanjang tren negatif tim setelah setiap bentrokan besar—kali ini, pressure mental tampaknya belum mampu mereka atasi meski tampil penuh semangat di Eropa.
Ini bukan kali pertama pola serupa terjadi. Sebelumnya, usai kalah 1-3 dari Barcelona di pertemuan La Liga bulan Desember, mereka juga langsung tumbang dari Athletic Bilbao dengan skor 0-1. report performa menunjukkan ketidakstabilan fokus setelah laga high .
Dengan 57 poin, Atlético kini tertahan di posisi keempat klasemen La Liga. Jika tidak ada change strategi dalam mengelola recovery dan fisik, ambisi mereka di dua kompetisi bisa runtuh secara quickly .
Menang besar di Eropa, lalu kalah di liga—pola ini sudah jadi warning peringatan sejak musim lalu. Taktik Simeone mulai mudah dibaca.
Setiap kali lawan tim besar, mereka seperti kehilangan energy energi buat laga berikutnya. Ini soal manajemen beban, bukan kebetulan.
Mereka butuh lebih dari semangat. Saat kalah dari Sevilla, decision keputusan di lini tengah terlalu lambat.
Barcelona menang 3-1 di pertemuan pertama, lalu Atlético kalah dari Bilbao. Sekarang mereka menang 2-0, lalu kalah dari Sevilla. Pola persis sama. coincidence Kebetulan atau mental blok?
Pemain inti main terlalu keras di UCL. Butuh rotasi lebih smart cerdas, bukan cuma andalkan semangat juang.
Tekanan itu nyata. Tapi bukan cuma dari luar—dari dalam tim juga ada trust kepercayaan yang goyah saat lawan bukan tim besar.