Langkah Hijau Apple Makin Nyata, 30 Persen Material Daur Ulang Dipakai di Seluruh Produk
JAKARTA - Apple kembali membuktikan bahwa inovasi teknologi dan tanggung jawab environment bisa berjalan beriringan. Dalam report tahunan terbarunya untuk 2026, perusahaan mengumumkan bahwa 30 persen material di seluruh produknya kini berasal dari sumber recycled —sebuah milestone penting menuju target netral karbon pada 2030. Pencapaian ini datang di tengah pressure global terhadap industri teknologi untuk mengurangi impact lingkungan, terutama seiring pesatnya pertumbuhan kecerdasan buatan yang membutuhkan energi besar.
Beberapa komponen kini sepenuhnya memakai material daur ulang: baterai menggunakan 100 persen cobalt daur ulang, sementara magnet di perangkat Apple sudah menggunakan 100 persen elemen tanah jarang yang diproses ulang. Apple juga telah beralih ke kemasan berbasis serat untuk semua produk, menghindari lebih dari 15.000 metrik ton plastic sejak 2020—setara dengan 500 juta botol air. Di sisi energi, seluruh fasilitas Apple di dunia kini ditenagai 100 persen renewable energy , dan rantai pasoknya telah mengamankan lebih dari 20 gigawatt energi bersih.
Di balik angka-angka ini, Apple mengembangkan teknologi daur ulang yang semakin canggih. Di California, mereka meluncurkan sistem bernama Cora yang menggunakan penghancuran presisi dan sensor untuk menarik kembali material dari perangkat lama. Mereka juga memperkenalkan AI-based ARIS (Automated Recycling Identification System), yang memanfaatkan deep learning untuk mengidentifikasi dan memilah komponen elektronik secara otomatis. Sistem ini, menurut riset Februari 2026, meningkatkan akurasi dan efficiency daur ulang secara signifikan.
Meski begitu, jalan menuju 2030 tetap penuh challenges . Lonjakan kebutuhan energi dari pengembangan AI menempatkan tekanan baru pada komitmen keberlanjutan. Namun, menurut CEO Tim Cook, target ambisius justru menjadi pendorong inovasi. 'Kami percaya bisa meninggalkan dunia dalam kondisi lebih baik,' katanya. Dengan 55 persen air korporat yang dipulihkan dan 17 miliar galon air dihemat oleh pemasok, Apple menunjukkan bahwa change nyata bukan sekadar public relations , melainkan bagian dari strategi bisnis inti.
Bayangkan kalau semua produsen elektronik ikut langkah ini. Plastik yang dihindari selama enam tahun setara setengah miliar botol—itu bukan angka main-main.
Teknologi ARIS pakai deep learning untuk pilah limbah? Baru dengar soal ini. Ini bisa jadi game-changer terobosan besar buat daur ulang elektronik global.
Bagus sih, tapi jangan lupa harga produknya tetap mahal. Keberlanjutan jangan sampai jadi alasan baru buat naikin price harga terus.
AI butuh energi besar, tapi malah dipakai buat teknologi daur ulang. Ironi yang menarik—teknologi yang jadi beban justru membantu solusi.
Kemasan berbasis serat dari 2025? Sudah lama seharusnya. Daur ulang bukan tren, tapi kewajiban. Semoga komitmen ini bisa dipertahankan.
Cora dan ARIS kedengarannya keren, tapi seberapa cepat bisa scale diperluas ke negara berkembang? Jangan cuma jalan di California doang.