Pertamina dan Toyota Lanjutkan Proyek Bioetanol di Lampung Tahun Ini
Pertamina New & Renewable Energy bersama Toyota Motor Asia akan memulai pembangunan proyek" besar di Lampung tahun ini, yakni pabrik bioetanol yang ditargetkan mulai dibangun pada kuartal III atau IV tahun 2026. Langkah ini bukan sekadar ekspansi industri, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat energy terbarukan dan mendukung kebijakan nasional pencampuran biofuel E10 pada 2028.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu menyambut baik rencana ini, menyebutnya sebagai signal kuat bahwa industri dalam negeri mulai merespons government dengan serius. "Ini semakin memperkuat dan meyakinkan kita," ujarnya, menekankan pentingnya kemandirian production bahan bakar hijau di tengah tekanan global terhadap emisi karbon.
Lampung dipilih karena memiliki pasokan feedstock yang melimpah, termasuk tebu, ubi, singkong, sorgum, dan aren. Proyek ini juga mencakup pengembangan lahan untuk menanam komoditas pendukung, serta kemitraan dengan RA-BIT dari Jepang—lembaga riset yang didukung Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI). Kerja sama ini membuka peluang pembangunan research lokal di bidang teknologi bioetanol generasi kedua (2G), yang memanfaatkan limbah pertanian sebagai bahan baku.
Pabrik ini akan memiliki kapasitas awal 60.000 kiloliter per tahun dan fokus pada technology 2G berbasis multi-feedstock, yang memungkinkan pengolahan limbah menjadi etanol. Meski nilai investasi masih dalam kajian, studi kelayakan sedang dikerjakan oleh konsultan independen. CEO Toyota Motor Asia, Masahiko Maeda, menegaskan bahwa bioetanol hasil produksi nantinya bisa digunakan untuk berbagai jenis vehicle , dari penumpang hingga komersial, sejalan dengan komitmen perusahaan terhadap mobil rendah emisi.
Senang sekali daerah kami jadi pusat development pengembangan energi hijau. Tapi tolong pastikan petani lokal juga ikut terlibat, bukan cuma korporasi besar.
Teknologi 2G itu game-changer terobosan besar. Pakai limbah sebagai bahan baku itu solusi cerdas untuk masalah limbah dan energi sekaligus.
Investasinya belum jelas nilainya, tapi kalau proyek ini berjalan, bisa jadi catalyst katalis bagi investor lain untuk masuk ke sektor bioenergi.
RA-BIT itu serius, mereka punya rekam jejak bagus di riset biofuel. Kolaborasi teknologi seperti ini lebih berdampak daripada sekadar import impor teknologi.
60 ribu kiloliter per tahun kedengarannya banyak, tapi apakah cukup untuk memenuhi demand permintaan nasional? Jangan sampai hanya simbolis.
Sudah saatnya kita beralih dari bahan bakar fosil. Tapi jangan lupa, perlu juga ada policy kebijakan yang mendukung distribusi dan adopsi bioetanol di lapangan.
Ini langkah strategis. Pertamina ingin diversifikasi, Toyota butuh bahan bakar rendah karbon—dua kepentingan bertemu dalam satu initiative inisiatif.
Harusnya daerah lain juga dapat proyek serupa. Lampung dapat, tapi Sumatera Selatan yang juga penghasil tebu malah left behind ditinggalkan?