Deteksi TBC, Departemen Radiologi FK Unair Terapkan AI
Surabaya kini memiliki senjata baru dalam fight melawan Tuberkulosis: kecerdasan buatan. Departemen Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) meluncurkan program CERDAS-TB, singkatan dari Chest Early Radiographic Detection and Active Screening, yang menggabungkan rontgen portabel dengan teknologi AI untuk mendeteksi TBC sejak dini di tengah masyarakat. Program ini diuji coba di wilayah Puskesmas Kenjeran, salah satu area dengan akses terbatas terhadap layanan radiologi, dan ditargetkan untuk menjangkau kelompok risk tinggi seperti perokok, lansia, dan kontak erat pasien TBC aktif.
Salah satu tantangan utama dalam penanganan TBC adalah keterlambatan diagnosis akibat gejala awal yang tidak spesifik dan minimnya tenaga ahli untuk membaca hasil rontgen. Dengan sistem baru ini, pasien tidak perlu lagi ke rumah sakit besar. Cukup dengan foto thorax di lokasi, AI langsung menganalisis gambar dan menandai kemungkinan kelainan di paru-paru—terutama bercak putih di bagian apex, ciri khas infeksi TBC. Hasil ini kemudian dikonfirmasi oleh dokter spesialis radiologi Unair, menjadikan proses skrining lebih quickly tanpa mengorbankan accuracy .
Peran AI bukan menggantikan dokter, melainkan menjadi alat bantu untuk menyaring ratusan gambar dalam waktu singkat. Dukungan teknologi ini membantu mengatasi beban kerja dan memperluas jangkauan deteksi, terutama di fasilitas kesehatan primer. dr. Hidayat Surya Atmaja dari PDSRI menekankan bahwa validasi oleh dokter tetap menjadi tahap krusial untuk mencegah false positive maupun false negative. Tanpa langkah ini, risiko kesalahan diagnosis dan public trust yang goyah bisa mengancam efektivitas program.
Pemerintah Kota Surabaya juga turut mendukung inisiatif ini dengan menerapkan kebijakan tegas lewat Perwali Penanggulangan TB. Warga yang terdeteksi positif namun menolak pengobatan bisa dikenai sanctions , seperti penangguhan layanan kependudukan dan bantuan sosial. Ini bukan hukuman, tapi upaya mencegah penularan lebih luas. Dengan kombinasi teknologi, edukasi, dan policy , CERDAS-TB bukan sekadar program kesehatan—ia adalah model kolaborasi yang bisa direplikasi untuk mencapai target Indonesia Bebas TBC.
Bayangkan kalau dulu ada teknologi begini, mungkin bapak saya nggak sampai parah. Sekarang anak-anak malah bisa early detection deteksi dini di posyandu. Maju terus!
Tapi jangan lupa, infrastruktur dan pelatihan petugas juga harus dijamin. Teknologi canggih nggak berguna kalau listrik sering mati.
AI bantu screening skrining, tapi dokter tetap final. Itu prinsipnya. Jangan sampai masyarakat salah paham.
Sanksi terdengar keras, tapi kalau untuk cegah penularan ke anak-anak, saya setuju. Kesehatan masyarakat harus diutamakan.
Kemarin saya ikut, hasilnya keluar 10 menit. AI-nya cepat banget, lalu langsung dicek dokter. Rasanya aman dan trust percaya.
Ini contoh kebijakan yang menyentuh akar. Bukan cuma report laporan tahunan, tapi aksi nyata di lapangan.