Waspada Diabetes Tipe 5: Kenali Gejala DM Akibat Kurang Gizi Sejak Kecil!
Selama ini, masyarakat hanya mengenal diabetes tipe 1 dan tipe 2. Namun kini muncul ancaman kesehatan baru: diabetes tipe 5. Bukan akibat pola hidup berlebihan atau obesitas, penyakit ini justru bermula dari malnutrition berkepanjangan sejak masa balita. Kondisi yang dulu dikenal sebagai Malnutrition-Related Diabetes Mellitus (MRDM) kini telah diakui oleh International Diabetes Federation (IDF) sebagai entitas medis tersendiri.
Menurut Dr. Aldy Setyo Avianto, Sp.PD dari RSUD dr. R. Soetrasno Rembang, penyebab utama bukan resistensi insulin, melainkan failure perkembangan pankreas akibat asupan nutrisi yang sangat rendah sejak dini. "Pankreas tidak berkembang optimal, sehingga produksi insulin menjadi sangat rendah," jelasnya. Pasien umumnya berbadan kurus dan memiliki riwayat chronic undernutrition kronis, bukan obesitas seperti pada diabetes tipe 2.
Gejalanya mirip dengan diabetes lain: haus berlebihan, sering buang air kecil, cepat lelah, dan penurunan weight drastis. Tapi diagnosis membutuhkan pemeriksaan laboratorium khusus, termasuk tes C-peptide rendah dan marker autoimun negatif. Karena tubuh benar-benar kekurangan insulin, bukan resisten, pengobatan harus sangat hati-hati untuk menghindari hipoglikemia.
Penanganan memerlukan pendekatan ganda: terapi medical dan perbaikan status gizi. Pasien perlu asupan kalori dan protein yang cukup, ditambah koreksi defisiensi vitamin. Pencegahan terbaik adalah intervensi sejak 1.000 hari pertama kehidupan—mulai dari gizi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, hingga akses pangan bergizi. Skrining dini sangat penting bagi remaja kurus yang menunjukkan gejala classic diabetes agar tidak terlambat tertangani.
Baru tahu ada diabetes yang justru dari kekurangan gizi. Selama ini saya kira cuma dari makanan manis atau obesitas. Ini risk risiko serius buat anak-anak di daerah miskin.
Pengakuan IDF tahun 2025 ini penting banget. Harusnya jadi alarm buat kebijakan gizi nasional. Tapi jangan sampai public trust kepercayaan publik goyah karena terlambat direspons.
Di desa saya banyak anak kurus, makan nasi aja kadang cuma sekali sehari. Kalau ini benar, kita sedang menyiapkan future masa depan yang rentan penyakit.
Jadi mikir… apakah gejala lemas dan sering haus yang saya alami karena badan kurus termasuk ini? Harus segera cek blood sugar gula darah nih.
Logikanya masuk: tubuh tidak dapat bahan baku, organ tidak bisa tumbuh. Tapi kenapa butuh waktu sampai 2025 buat diakui? Apa decision keputusan ilmiah selalu lambat?
Pencegahan dari 1000 hari pertama itu kunci. Tapi tanpa akses pangan bergizi dan edukasi, change perubahan sulit terjadi. Butuh dukungan sistemik, bukan cuma imbauan.