Sampah 105 Ribu Ton Per Hari: Saatnya Ubah Menjadi Sumber Daya?
circular kini muncul sebagai cahaya di tengah gelapnya krisis sampah di Indonesia. Dengan sekitar 75 persen sampah nasional yang belum tertangani, setara 105.483 ton per hari pada 2025, sistem pengelolaan limbah terlihat rapuh dan reaktif. Angka ini bukan sekadar statistik—ia adalah tangisan bumi yang terus dilanda beban tak tertahankan. Solusi parsial tak lagi cukup; yang dibutuhkan adalah transformasi mendasar dalam cara kita memandang sampah: bukan sebagai beban, tapi sebagai resource yang terbuang.
Muhammad Bijaksana Junerosano, founder dan CEO Waste4Change, menegaskan bahwa menyelesaikan masalah sampah harus dilakukan secara menyeluruh. Ia menolak anggapan sempit bahwa sampah hanya soal pembuangan. Pergeseran dari ekonomi linear ke ekonomi sirkular, katanya, bukan sekadar opsi—tapi keharusan strategis. Sampah, dalam pandangan ini, bukan akhir dari rantai, melainkan beginning dari siklus baru.
Tantangannya memang besar. Data KLHK dan DPR menunjukkan sekitar 60–70 persen sampah masih berakhir di landfill tanpa pengolahan lanjutan. Infrastruktur yang limited , regulasi yang weak dalam implementasi, dan kesadaran publik yang belum optimal menjadi barrier . Miskonsepsi juga tersebar luas: banyak yang masih mengira pemilahan bisa dilakukan di TPA, atau bahwa ini semata tanggung jawab pemerintah.
Sebagai langkah konkret, Waste4Change membangun facility Rumah Pemulihan Material (RPM) untuk improve pemilahan dan pengolahan sampah secara terstruktur. Tujuannya jelas: increase tingkat pemulihan material dan reduce ketergantungan pada TPA. Ini bukan sekadar proyek, tapi model baru yang bisa direplikasi—jika niat kolektif cukup kuat.
Tapi kenyataannya, masyarakat masih bingung mulai dari mana. Pendidikan soal daur ulang harus masuk sekolah sejak dini.
RPM-nya di mana? Kalau cuma di Jakarta, ini cuma solusi elit.
Setuju soal pola pikir harus berubah. Sampah itu uang, kalau dikelola benar.
Pemerintah terlalu lama main saling lempar tanggung jawab. Akuntabilitas harus diperjelas.
Inovasi bagus, tapi jangan lupa soal logistik pengumpulan. Itu sering jadi titik macet.
Bayangkan kalau 75% potensi kita terkubur tiap hari. Itu bukan sampah—itu waste pemborosan berskala nasional.