Palantir Luncurkan Manifesto AI: Perlindungan atau Ancaman bagi Demokrasi?

technology yang seharusnya menjadi alat penerangan justru kini berubah menjadi bayangan yang mengintai demokrasi. Palantir, perusahaan kecerdasan buatan asal Amerika Serikat, baru saja melemparkan bom ideologi ke tengah percakapan global dengan peluncuran manifesto berjudul "The Technological Republic" pada 26 April 2026. Dalam dokumen 22 poin tersebut, CEO Alexander C. Karp bersama penasihat hukum Nicholas W. Zamiska menyatakan bahwa software bukan lagi sekadar alat, melainkan benteng utama pertahanan nasional—sebuah klaim yang langsung memicu kemarahan dari para pemikir dan politisi di seluruh dunia.

Manifesto ini tidak hanya membayangkan masa depan yang digerakkan oleh algoritma, tapi juga menyatakan bahwa era nuclear akan segera berakhir, digantikan oleh dominasi kecerdasan buatan. Palantir meyakini bahwa pengembangan weapons berbasis AI adalah keniscayaan—dan harus dipimpin oleh pihak yang memiliki values . Framing semacam ini tidak hanya terdengar provokatif, tapi juga menempatkan perusahaan sebagai aktor geopolitik yang berdiri di luar kendali sipil, menurut para pengkritik. Bagi mereka, ini bukan lagi soal inovasi, melainkan soal power yang dikemas sebagai kemajuan.

Di Inggris, reaksi keras datang dari Victoria Collins, anggota parlemen dari Partai Liberal Demokrat. Ia menyebut manifesto tersebut sebagai sesuatu yang "sounds seperti ocehan penjahat super". Baginya, perusahaan dengan motivasi ideologis yang terlalu kentara tidak pantas mendekati layanan publik, apalagi mengelola data sensitif untuk keperluan pertahanan. Kritik ini semakin menguat karena Palantir memiliki banyak kontrak dengan pemerintah Inggris dan AS—sebuah kenyataan yang membuat klaim netralitas teknis mereka menjadi questionable .

Tidak hanya dari dunia politik, suara dari akademisi pun tak kalah tajam. Profesor Shanno Vallor dari Universitas Edinburgh memperingatkan bahwa visi Palantir bisa menjadi threat serius terhadap sistem demokrasi. Sementara ilmuwan politik Cas Mudde bahkan mendesak Eropa untuk segera melakukan divestasi dari perusahaan, menyebutnya sebagai wujud pure dari teknofasisme. Di platform X, unggahan manifesto ini telah menuai puluhan ribu reaksi, mayoritas bernada negative , mencerminkan kegelisahan publik yang luas terhadap arah baru yang ditempuh oleh salah satu raksasa teknologi paling berpengaruh di dunia.

Reaksi 8

  • P
    pemikir_malam

    Kalau perangkat lunak jadi benteng negara, siapa yang jaga bentengnya? Transparansi harus jadi syarat utama.

  • D
    data_waspada

    Teknofasisme bukan istilah berlebihan. Ketika company bicara tentang 'keniscayaan', itu tanda bahaya.

  • N
    netizen_bekasi

    AI untuk senjata? Lebih serem daripada film distopia.

  • A
    akal_sehat89

    Nilai Barat bukan satu-satunya tolok ukur moral. Sombong kalau merasa paling benar.

  • T
    tech_skeptik

    Mereka bilang membangun pertahanan, tapi yang muncul malah fear .

  • I
    ibu_kota

    DPR harus panggil perwakilan Palantir. Ini bukan cuma soal teknologi, tapi soal kedaulatan.

  • C
    cyber_pacifist

    Perang masa depan tidak dimenangkan oleh peluru, tapi oleh kode. Dan itu mengerikan.

  • P
    pengamat_timur

    Kalau Eropa divestasi, mungkin saatnya Asia bangun alternatif. Ketergantungan itu risiko.

Artikel ini berbasis fakta dan disusun ulang untuk tujuan pembelajaran bahasa Inggris; reaksi pembaca adalah contoh dari beragam sudut pandang.

[email protected]