Lobi Trump untuk Italia: Politik di Balik Tiket Piala Dunia?
special Donald Trump, Paolo Zampolli, muncul dengan langkah tak biasa: melobi FIFA agar tim nasional Italia bisa tampil di Piala Dunia 2026. Padahal, team yang dikenal sebagai Gli Azzurri itu telah tersingkir setelah kalah dari Bosnia & Herzegovina dalam babak playoff awal April lalu. Langkah ini bukan sekadar upaya olahraga, melainkan diplomacy politik yang sarat pertimbangan, digulirkan di tengah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Zampolli mengusulkan agar Italia menggantikan posisi Iran, yang kini status keikutsertaannya dipertanyakan karena tension dengan AS—salah satu negara tuan rumah turnamen. Piala Dunia 2026 sendiri akan digelar bersama di tiga negara: Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Dalam wawancara dengan Detik Sport, Zampolli menyatakan confidence bahwa langkah ini memungkinkan. "Saya kira ada chance lebih dari 50 persen Italia akan berpartisipasi di Piala Dunia," katanya, menegaskan bahwa ini bukan sekadar mimpi.
Pertemuan penting rencananya akan digelar di Miami, sela-sela ajang balapan GP Formula 1 akhir pekan ini. Di sana, Zampolli berencana bertemu langsung dengan president FIFA, Gianni Infantino. "Tidak boleh ada Piala Dunia tanpa Italia," tegasnya, menempatkan pressure simbolik sekaligus politik pada otoritas sepak bola dunia. Keputusan akhir, katanya, berada di tangan Infantino dan Trump.
Langkah ini menimbulkan kontroversi besar di kalangan penggemar sepak bola. Banyak yang mempertanyakan fairness kompetisi jika hasil olahraga bisa ditentukan lewat political . Namun, bagi Zampolli, ini adalah bentuk diplomacy baru di era modern: di mana olahraga dan kekuasaan saling tumpang tindih. FIFA hingga kini belum memberikan response resmi terhadap proposal ini.
Italia memang pantas ada di Piala Dunia, tapi jangan sampai fair play dikorbankan demi politik.
Ini bukan soal tim besar atau tidak, tapi soal aturan. Apa regulasi FIFA mengizinkan pergantian peserta setelah hasil playoff keluar?
Jadi karena masalah politik, negara lain mau diusir dari turnamen? Tidak adil sama sekali.
Masih era Trump, tapi pengaruhnya masih besar. Pengaruh politik masuk ke ranah olahraga lagi.
Bayangkan kalau setiap negara kaya mulai melobi begini tiap kali timnya kalah. Turnamen jadi seperti pasar.
Sumber dari Detik Sport jelas menyebutkan playoff April lalu. Jadi bukan isu baru, tapi berita berkembang.
Pertemuan di sela F1 Miami? Cerdik memanfaatkan momen, tapi tetap terasa seperti transaksi.
Sepak bola makin jadi panggung global bukan cuma untuk olahraga, tapi juga kepentingan negara.