Modus Mengerikan Bupati Tulungagung Peras Anak Buahnya dengan Surat Tanpa Tanggal

Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, diduga menggunakan modus yang sangat menekan terhadap anak buahnya, membuat para pejabat daerah hidup dalam fear dan tak berdaya menolak permintaan sang bupati. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkapkan bahwa modus yang dipakai bukan sekadar ancaman lisan, melainkan sistematis dan terstruktur, memanfaatkan surat resignation tanpa tanggal yang telah ditandatangani oleh para kepala organisasi perangkat daerah (OPD).

Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, menjelaskan bahwa surat responsibility dan surat pengunduran diri itu menjadi alat pengendali. "Ini sangat intimidating ," ujarnya. Dengan tidak adanya tanggal, surat itu bisa diaktifkan kapan saja, membuat pejabat yang tidak menuruti perintah bisa diberhentikan secara mendadak, seolah-olah mereka mengundurkan diri secara sukarela.

Tekanan ini ternyata menghasilkan financial terencana. Pejabat yang merasa terjepit bahkan terpaksa meminjam uang atau menguras personal untuk memenuhi permintaan dana dari bupati. Ajudan bupati, Dwi Yoga Ambal, turut menjadi bagian dari sistem ini dengan rutin melakukan collection kepada para kepala OPD, memperkuat kesan adanya struktur pemerasan yang terorganisasi.

KPK akhirnya menetapkan Gatut Sunu Wibowo dan ajudannya sebagai tersangka pada Sabtu (11/4/2026), setelah pelantikan pejabat pada Desember 2025. Kasus ini bukan hanya soal corruption , tapi juga soal penyalahgunaan kekuasaan yang menciptakan iklim fear di lingkungan pemerintahan daerah. Dampaknya, kepercayaan publik terhadap birokrasi pun ikut terganggu.

Komentar 6

  • P
    PakDhe_Jogja

    Bayangin harus tanda tangan surat mundur tanpa tanggal. Itu bukan resignation , itu ancaman kerja.

  • L
    LintangW

    Sistem seperti ini justru memaksa pejabat jadi korup juga. Kalau gaji gak cukup bayar pemerasan atasan, mau ngutang ke mana lagi?

  • B
    BuRini

    KPK harus tuntas sampai ke akar-akarnya. Jangan sampai ini cuma jadi case simbolik doang.

  • A
    Andika_M

    Tekanan kayak gini jelas merusak kepercayaan institusi. ASN jadi takut, bukan hormat.

  • C
    CahTulung

    Sedih denger kabar dari daerah sendiri. Padahal kami butuh support , bukan teror dari pemimpin.

  • F
    Fajar_Pagi

    Kapan pemimpin daerah belajar jadi public servant , bukan tuan feodal?