Big Lift Teleskop VGOS di Bosscha, Lompatan Indonesia dalam Riset Astronomi dan Geodesi Global
Pada 9 Juli 2025, antena teleskop radio seberat 85 ton berhasil diangkat di Observatorium Bosscha, Lembang. Peristiwa big lift ini menandai selesainya struktur utama dari fasilitas new yang akan memperluas peran Indonesia di panggung astronomi dan geodesi global. Teleskop berukuran 13 meter ini adalah bagian dari jaringan Very Long Baseline Interferometry Global Observing System (VGOS), sistem presisi tinggi yang menggabungkan data dari berbagai titik di dunia untuk mengukur pergerakan Bumi dengan akurasi luar biasa.
Hingga kini, sebagian besar jaringan VLBI berlokasi di belahan bumi utara, meninggalkan wilayah ekuator—termasuk Asia Tenggara—dengan cakupan terbatas. Kehadiran stasiun VGOS di Bosscha akan mengisi gap tersebut dan menjadi jembatan antara jaringan utara dan selatan. Prof. Dr. Taufiq Hidayat dari ITB menjelaskan bahwa posisi strategis Indonesia memungkinkan pengukuran continental movement dan perubahan posisi titik di permukaan Bumi secara lebih seimbang, yang penting untuk memahami risiko geologis dan perubahan iklim.
Fasilitas ini tidak hanya mendukung astronomi, tetapi juga berbagai disiplin ilmu. Dengan dilengkapi penerima GNSS, stasiun cuaca, dan antena holometri, Bosscha akan menjadi pusat riset multidisciplinary . Data dari teleskop ini bisa digunakan untuk membangun kerangka acuan Bumi yang lebih akurat, menjaga standar waktu internasional, bahkan memantau climate change . "Kita dapat menentukan apakah suatu wilayah berpotensi berbahaya atau tidak," ujar Prof. Taufiq, yang juga penanggung jawab kolaborasi ITB–SHAO.
Pembangunan ini dimulai setelah penandatanganan nota kesepahaman dengan Shanghai Astronomical Observatory pada 2022, menyusul pertemuan intensif sejak 2020. Setelah tertunda oleh pandemi, survei lokasi dilakukan akhir 2023 dan konstruksi fisik dimulai November 2024. Pada Desember 2025, uji fringe pertama berhasil dilakukan antara Bosscha dan stasiun Sheshan di China, membuktikan integrasi teknis yang solid. Saat ini, fasilitas—yang resmi bernama ITB–Bosscha VLBI Station—masih dalam tahap commissioning dan diharapkan diresmikan sebelum Juli 2026.
Baru tahu kalau posisi ekuator itu begitu penting untuk keseimbangan jaringan pengukuran global. Ini benar-benar game-changer untuk riset di Asia.
85 ton itu beratnya luar biasa. Bayangkan proses big lift-nya di daerah pegunungan. Keren betul eksekusinya.
Akhirnya Indonesia punya peran nyata di jaringan global. Tapi jangan sampai cuma jadi stasiun data doang, harus ada local expertise keahlian lokal yang berkembang juga.
Bosscha sudah punya sejarah panjang. Sekarang dengan alat new baru, semoga lahir generasi astronom yang lebih kuat.
Kerja sama dengan TU Wien dan KASI? Keren. Tapi kapan kita punya data center pusat data sendiri yang mandiri?
Fokus pada sains itu penting, tapi jangan lupa public trust kepercayaan publik harus dibangun. Butuh edukasi yang lebih masif juga.