Sampai Kapan AS Bertahan Blokade Pelabuhan Iran? Ini Kata Menhan Hegseth
Blokade militer terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat masih berlangsung sejak Senin (13/4/2026), setelah negotiations di Islamabad, Pakistan, gagal menghasilkan breakthrough . Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa kapal-kapal yang mencoba masuk atau keluar dari wilayah pesisir Iran di Selat Hormuz dan Teluk Persia dihentikan secara paksa. Meski impact tidak sebesar penutupan total Selat Hormuz, blokade ini tetap menciptakan pressure besar terhadap rantai pasok dan aktivitas economy Iran.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa operasi ini akan berlangsung selama diperlukan. Dalam pernyataannya, ia menyampaikan warning keras: jika situasi memburuk, AS siap menyerang energy facilities dan infrastruktur penting lain di Iran. "Kami mempersiapkan diri dengan kekuatan yang lebih besar dan intelijen yang lebih baik dari sebelumnya," kata Hegseth, menekankan kesiapan militer meskipun AS tetap membuka diplomatic path .
Namun, kepercayaan Iran terhadap AS terus melemah. Jurnalis Al Jazeera Ali Hashem melaporkan dari Teheran bahwa tindakan militer AS selama proses talks — termasuk dua serangan yang diklaim terjadi di tengah negosiasi tidak langsung — membuat Teheran semakin skeptical . Pesan-pesan dari Washington dianggap justru memperdalam distrust , bukan membangun trust . Sebuah platform resmi Kementerian Luar Negeri Iran menyebut optimisme media hanyalah bagian dari public relations .
Di tengah tension yang masih tinggi, delegasi Pakistan telah tiba di Teheran untuk memfasilitasi putaran baru pembicaraan. Namun, isu gencatan senjata di Lebanon — yang dikaitkan erat dengan agresi Israel — kini menjadi titik kebuntuan bersama pengendalian Selat Hormuz dan nasib program nuklir Iran. Dengan blokade berjalan dan ancaman serangan ongoing , masa depan jalur diplomasi terasa rapuh dan uncertain .
Tekanan ekonomi seperti ini selalu paling keras dirasakan rakyat biasa, bukan elit. Risiko krisis pangan dan price surge kenaikan harga bakal jadi nyata kalau blokade terus berlangsung.
AS bilang buka jalur diplomasi, tapi sambil terus ramp up meningkatkan tekanan militer. Ini namanya diplomasi senapan di pelipis.
Kalau sampai fasilitas energi diserang, eskalasi regional hampir pasti terjadi. Ini bukan cuma urusan AS dan Iran lagi.
Pakistan coba jadi penengah, tapi mereka juga punya tekanan geopolitik sendiri. Jendela diplomasi ini sempit banget.
Pernah lihat pola serupa sebelumnya: tekanan maksimal, lalu tiba-tiba ada last-minute deal kesepakatan menit terakhir. Tapi kali ini risikonya jauh lebih tinggi.
Yang bikin waswas itu civilian cost dampak sipil dari blokade laut. Jalur perdagangan terputus, obat dan bahan pangan bisa langka. Kapan ini dianggap serius?