Iran Tolak Gencatan Senjata Sementara, Lingkaran Konflik Harus Berakhir Secara Permanen
Warga Teheran memadati jalan-jalan pada Rabu (8/4/2026), ketika kabar gencatan senjata dua minggu antara AS-Israel dan Iran mulai menyebar. Namun, kegembiraan itu cepat pupus saat Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menyatakan penolakan tegas terhadap temporary truce . Di tengah forum diplomasi di Antalya, ia menegaskan bahwa satu-satunya solusi yang dapat diterima adalah permanent , bukan jeda singkat yang tidak menyentuh akar konflik.
Khatibzadeh menekankan bahwa lingkaran kekerasan di Timur Tengah must end selamanya. Ia menuntut agar setiap upaya perdamaian mencakup seluruh kawasan, from Lebanon hingga Laut Merah. Menurutnya, regional instability yang dipicu oleh AS dan Israel telah merusak global trade dan menciptakan economic pressure yang meluas. Bagi Iran, ini bukan sekadar konflik militer, tapi krisis yang mengancam stabilitas dunia.
Di sisi lain, Iran menegaskan komitmennya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional, meskipun jalur strategis itu berada dalam wilayahnya. Khatibzadeh menyebut bahwa akses tetap terbuka secara historis, namun pengaturan baru bisa diterapkan sesuai security concerns dan isu lingkungan. Ia menegaskan bahwa penyelesaian konflik secara comprehensive akan menjamin Selat Hormuz tetap menjadi koridor aman bagi international market .
Upaya perdamaian kini berada di tangan Pakistan. Jenderal Asim Munir telah berada di Teheran sejak 15 April, bertemu dengan Presiden Pezeshkian, Ketua Parlemen Qalibaf, dan Menteri Luar Negeri Araghchi. Sebagai bagian dari mediation , Munir juga berdialog dengan petinggi militer Iran. Sebelumnya, Pakistan menjadi tuan rumah negosiasi yang menghasilkan gencatan senjata dua pekan—sebuah short-term response setelah serangan militer Februari lalu. Namun, bagi Iran, real change hanya akan terjadi jika konflik dihentikan untuk selamanya.
Kalau cuma gencatan sementara, ya pasti bakal mulai lagi. Mereka butuh real solution solusi nyata, bukan obat bius.
Dari dulu Selat Hormuz jadi titik krusial. Kalau sampai ditutup, global market pasar global bisa goncang hebat.
Pakistan jadi penengah? Menarik. Tapi apakah cukup kuat hadapi tekanan dari AS dan Israel? Risiko besar buat mereka.
Yang penting rakyat sipil selamat dulu. Semua political game permainan politik ini jangan sampai korbankan warga biasa.
Iran bilang komitmen jaga Selat Hormuz terbuka, tapi tetap mau atur ulang akses. Itu strategic move langkah strategis atau ancaman halus?
Mediasi Pakistan patut didukung. Tapi kalau gak ada trust kepercayaan antar pihak, semua upaya bakal sia-sia.