Dunia Tidak Baik-baik Saja: Saatnya Indonesia Perkuat Benteng Ekonomi
Baybay di tepi ketidakpastian. Dunia, kata Perry Warjiyo, tidak sedang well , justru makin tidak pasti. Di tengah global yang melambat dan geopolitical yang membara, Indonesia diperingatkan untuk tidak terlena. Setiap pressure bisa berubah jadi gelombang besar yang menghantam stabilitas dalam negeri. Gubernur Bank Indonesia itu menyampaikan ini bukan sebagai ramalan suram, tapi sebagai panggilan: saatnya strengthen yang lokal, sebelum angin badai benar-benar tiba.
Ancaman datang dari berbagai arah—bukan hanya slowdown , tapi juga suku bunga tinggi di Amerika Serikat yang bisa picu aliran modal keluar. Ketika financial bergoyah, Indonesia tak bisa hanya berharap pada keberuntungan. Perry menekankan, kunci bertahan adalah koordinasi antara pemerintah, otoritas keuangan, perbankan, dan pelaku usaha. Tanpa sinergi, setiap upaya akan berjalan sendiri-sendiri, seperti kapal tanpa kemudi di tengah ombak.
Yang menarik, respons terhadap ketidakpastian global justru harus dimulai dari dalam. Perry menyebut domestic —konsumsi dan investasi—sebagai fondasi utama. Di sini, peran sektor riil dan masyarakat luas jadi penting. Bukan hanya soal kebijakan makro, tapi juga kepercayaan: apakah orang masih mau spend uangnya? Apakah pengusaha masih berani invest ? Jawabannya menentukan ketahanan nasional, bukan hanya dalam angka pertumbuhan, tapi dalam daya tahan sistem ekonomi secara keseluruhan.
Perry mengajak semua pihak untuk tak hanya bertahan, tapi juga mendorong pertumbuhan berkelanjutan. Dalam acara Kick Off Percepatan Intermediasi Nasional (PINSI), ia menekankan pentingnya komitmen bersama. Di tengah volatilitas yang tak kunjung reda, upaya ini bukan lagi pilihan—tapi keharusan. Karena ketika dunia goyah, satu-satunya fondasi yang bisa dipercaya adalah national yang dibangun dari kerja kolektif, bukan dari spekulasi semata.
Susah juga ya kalau suku bunga high tinggi terus, utang makin mahal.
Kalau modal pada keluar, siapa yang mau bangun pabrik di sini?
Terlalu banyak bicara soal koordinasi, tapi di lapangan tetap jalan sendiri-sendiri.
Kita harus percaya pada daya tahan ekonomi domestic lokal.
Pernah kerja di startup, modal investor asing bisa cabut dalam semalam kalau pasar unstable tidak stabil.
Pemerintah harus lebih sering bicara ke rakyat, bukan cuma ke bank sentral.
Pernyataan Perry realistis, tapi solusinya terlalu umum. Di mana tindakan nyata?