Usai Lawatan Purbaya ke AS, Bank Dunia Minta Maaf, S&P Nilai Ekonomi RI Tetap Stabil
Setelah visit Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ke Amerika Serikat, sejumlah lembaga keuangan global mulai menunjukkan shift terhadap prospek ekonomi Indonesia. Sebelumnya, mereka sempat memberikan outlook yang lebih hati-hati, namun kini mulai terlihat adanya recognition atas ketahanan ekonomi domestik yang lebih kuat dari yang diperkirakan.
Perubahan paling mencolok datang dari Bank Dunia, yang sebelumnya revised proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam pertemuan langsung, pejabat yang menyusun proyeksi itu bahkan menyampaikan apology , mengakui bahwa keputusan mereka terlalu hasty . "Dia minta maaf, katanya terlalu cepat menurunkannya," ungkap Purbaya dalam wawancara dengan Kompas TV. Meski tidak meminta revisi resmi, ia yakin kinerja ekonomi ke depan akan membuktikan assessment sebelumnya keliru.
Sinyal reassurance juga datang dari S&P Global Ratings, yang mempertahankan credit Indonesia dengan outlook stabil. Ini menjadi indikator kuat bahwa risiko fiskal masih under control . Namun, S&P tetap memberi catatan soal rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara — sebuah indicator yang perlu diwaspadai meski saat ini masih dalam batas aman berkat perbaikan penerimaan negara.
Dari IMF, tidak ada kebijakan khusus yang ditawarkan karena Indonesia dinilai tidak membutuhkan fasilitas financing darurat. Purbaya menekankan bahwa cadangan fiskal nasional jauh lebih kuat dibanding skema bantuan internasional. Dengan defisit anggaran diproyeksikan hanya 2,8–2,9 persen dari PDB pada 2025, jauh di bawah ambang batas 3 persen, pemerintah membuktikan komitmen terhadap fiscal discipline . Ini bukan respons reaktif, melainkan hasil dari policy reform dan penguatan penerimaan yang berjalan sejak lama, termasuk pertumbuhan pajak yang signifikan.
Permintaan maaf dari Bank Dunia itu langka banget. Ini signal sinyal kuat bahwa analisis mereka sebelumnya underestimasi fundamental kita.
S&P stabil tapi tetap waspada soal bunga utang. Artinya, debt management manajemen utang harus tetap ketat, jangan sampai lengah.
Senang dengar defisit 2025 cuma 2,8%. Jauh lebih baik dari yang feared dikhawatirkan banyak pihak tahun lalu.
Yang paling penting bukan ratingnya, tapi bahwa investor global mulai percaya lagi. Itu yang langsung impact berdampak ke pasar modal dan rupiah.
Reformasi fiskal sejak lama akhirnya berbuah. Tapi jangan cepat puas — ekonomi global masih penuh uncertainty ketidakpastian.
IMF nggak tawarin bantuan? Berarti kita dianggap cukup kuat. Tapi tetap harus jaga buffer cadangan buat antisipasi krisis.