Pemerintah AS dan Media Barat Sedang Membentuk Narasi Perpecahan di Iran
Beberapa kelompok di Iran menilai bahwa government Amerika Serikat dan media Barat sedang menyusun narrative yang tidak mencerminkan kenyataan soal hubungan kedua negara. Tudingan ini muncul saat ketegangan politik dan militer antara Washington dan Teheran memasuki fase yang lebih tense , dengan isu perpecahan internal Iran menjadi sorotan utama.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, bersama unsur military seperti Islamic Revolutionary Guard Corps, menegaskan adanya unity sikap dalam menghadapi tekanan dari AS. Mereka membantah laporan media Barat yang menyebut adanya division internal, menyebut klaim tersebut tidak didukung bukti nyata dan justru berbasis pada speculation atau sumber anonim.
Sebelumnya, pernyataan Presiden AS Donald Trump soal rencana pembicaraan AS-Iran di Islamabad dipertanyakan karena tidak sesuai dengan developments di lapangan. Beberapa report internasional bahkan menyebut adanya kesepakatan tertentu, yang langsung dibantah oleh pihak Iran sebagai informasi yang tidak akurat dan menyesatkan.
Pihak Iran melihat narasi perpecahan ini sebagai strategy untuk melemahkan posisi mereka dalam diplomasi. Di tengah tekanan eksternal yang terus meningkat, mereka menegaskan justru terjadi konsolidasi internal yang semakin kuat. Pengamat mencatat bahwa upaya memperuncing konflik internal lawan merupakan pola yang sering muncul dalam geopolitical global.
Selalu ada pressure tekanan dari luar kalau negara punya posisi tegas. Tapi justru di saat seperti ini solidaritas nasional harus diutamakan.
Media Barat sering pakai narasi division perpecahan buat giring opini. Padahal di dalam, justru sedang ada konsensus.
Kalau laporan dari sumber anonim, ya jelas nggak bisa dipegang. Harusnya jurnalistik tetap pakai evidence bukti, bukan spekulasi.
Ini contoh bagaimana external eksternal coba ganggu stabilitas. Tapi Iran malah makin rapat. Ironis.
Jadi pertanyaannya: siapa yang diuntungkan dari narasi ini? Jelas bukan rakyat Iran. Diplomasi harusnya jujur, bukan manipulatif.
Geopolitik emang selalu penuh tactics taktik. Tapi publik harus belajar baca di balik laporan yang terlihat netral.