Gelontorkan Ratusan Miliar, Bakrie Capital Indonesia Perluas Kepemilikan Saham di BIPI
PT Bakrie Capital Indonesia kembali menunjukkan langkah strategisnya di pasar modal dengan menambah ownership saham di PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), salah satu energy infrastruktur utama. Pada 15 April 2026, perusahaan menggelontorkan dana sebesar Rp 116,13 miliar untuk membeli 464,5 juta saham BIPI dengan harga transaksi Rp 250 per saham, menurut laporan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Transaksi ini meningkatkan total kepemilikan Bakrie Capital Indonesia di BIPI dari 6% menjadi 6,73%, atau setara dengan 4,287 miliar saham. Dalam disclosure , perusahaan menyatakan bahwa tujuan dari transaction ini murni untuk investment , tanpa menyebut rencana pengambilalihan atau perubahan control .
Langkah ini bukan yang pertama. Sebelumnya, pada 24 Februari 2026, Bakrie Capital telah menggelontorkan dana sebesar Rp 948,01 miliar untuk memperoleh 3,82 miliar saham BIPI, yang saat itu setara dengan 6%. Kini, dengan dua kali purchase besar, total dana yang telah ditanamkan mencapai sekitar Rp 1,06 triliun, menunjukkan commitment jangka panjang terhadap sektor infrastructure energi.
Di tengah aksi korporasi ini, harga saham BIPI menunjukkan positive yang stabil. Pada penutupan perdagangan 15 April, saham BIPI menguat 0,72% ke level Rp 278 per saham. Penguatan ini menunjukkan bahwa pasar merespons dengan confidence terhadap move Bakrie Capital, meskipun belum ada indikasi perubahan management atau strategic bisnis dari emiten tersebut.
Total sudah Rp 1 triliun lebih dikeluarkan, tapi baru dapat 6,73%? Ini menunjukkan valuation penilaian BIPI memang tinggi, atau Bakrie sedang main aman dulu.
Kalau tujuannya cuma investasi, kenapa belinya pakai quick cepat dan beruntun gini? Rasanya ada plan rencana besar di balik ini.
Harga saham masih di bawah Rp 300, padahal fundamentalnya kuat. Mungkin ini kesempatan bagus buat investor kecil ikutan, selama tidak terjadi sell-off penjualan besar tiba-tiba.
Bakrie punya sejarah di energi dan infrastruktur. Tambahan saham ini bisa jadi sinyal strategic strategis, bukan cuma portofolio biasa.
Perlu dicatat, mereka beli saat harga transaksi Rp 250, tapi saham langsung naik ke Rp 278. Artinya, sudah ada market pasar yang antisipasi impact dampak dari pembelian ini.
Apa yang terjadi kalau nanti mereka ingin naik ke 20% atau lebih? Apakah regulator akan mulai melihat ini sebagai ancaman terhadap competition persaingan sehat?