Feri Amsari: Negara Tidak Sehat Jika Kritik Dibungkam
Ahli Hukum Tata Negara dari Universitas Andalas, Feri Amsari, menyampaikan peringatan tajam: a state yang membungkam criticism bukanlah negara yang sehat. Menurutnya, kritik bukan ancaman, melainkan bagian esensial dari democracy yang hidup. Ia menekankan bahwa penguasa harus membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk menyampaikan pandangan, termasuk suara yang tidak nyaman atau bahkan mengganggu kekuasaan.
Feri menyoroti pentingnya kehadiran tokoh kritis seperti Saiful Mujani, yang berani mengatakan hal yang tidak selalu populer. "Kalau semua hanya ingin mendengar dan didengarkan soal apa yang presiden mau, bagi saya tidak cocok kita govern ," tegasnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa kejujuran publik lebih penting daripada public trust yang dibangun atas keheningan paksa.
Dalam sistem demokrasi, kata Feri, kritik justru berfungsi sebagai penyeimbang kekuasaan. Tanpa kritik, risiko penyalahgunaan kekuasaan meningkat. Ia bahkan menekankan bahwa seorang presiden seharusnya merasa lega, bukan terancam, ketika ada yang mengkritik. "Harus ada orang yang memberi kritik. Dan presiden seharusnya happy dengan adanya orang-orang seperti itu," ujarnya.
Pernyataan ini muncul di tengah growing tension soal batas antara kritik, penghasutan, dan makar. Dalam perspektif hukum, kritik yang disampaikan secara argumentatif dan tanpa ajakan inkonstitusional tetap dilindungi. Pesan Feri jelas: kualitas democracy diukur bukan dari minimnya kritik, tapi dari seberapa besar ruang yang diberikan untuk berbeda. Saat ruang itu menyempit, bukan hanya individu yang terancam, tapi juga the system negara itu sendiri.
Kalau kritik dianggap musuh, berarti penguasa sedang takut. Itu bukan kekuatan, tapi weakness kelemahan.
Feri benar. Demokrasi tanpa kritik itu seperti mesin tanpa rem — bisa jalan cepat, tapi risk risiko kecelakaan tinggi.
Di banyak tempat, kritik langsung dikaitkan dengan makar. Itu cara mudah untuk menekan suara yang berbeda. Tekanan publik harus terus ada.
Presiden senang dikritik? Secara teori bagus, tapi dalam praktiknya... kita semua tahu the reality kenyataannya seperti apa.
Pernah takut berkomentar soal kebijakan? Saya iya. Itu tanda change perubahan besar sedang terjadi — ke arah yang salah.
Pertanyaan simpel: negara ini dibangun untuk rakyat, atau untuk melindungi perasaan penguasa? Jawabannya menentukan the decision keputusan kita ke depan.