Vietnam Berambisi Jadi Penguasa "Dapur Dunia", RI Gigit Jari
Vietnam sedang membangun ambisi besar: menjadi new pemain utama dalam rantai pangan global. Pada 2025, ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanannya mencapai record US$70,09 miliar, melampaui target pemerintah dan naik 12% dari tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan pergeseran strategis: dari negara dengan industri manufaktur sebagai tulang punggung, kini pangan menjadi mesin utama revenue .
Keberhasilan ini tidak bergantung pada satu komoditas. Struktur ekspor Vietnam sangat diverse : kayu dan produk turunannya menyumbang US$11,6 miliar, kopi US$8,6 miliar, serta buah dan sayur juga US$8,6 miliar. Dengan 10 kelompok barang bernilai lebih dari US$1 miliar, negara ini mampu menahan pressure pasar saat satu sektor melemah. Yang lebih penting, nilai tambah kini jadi fokus utama dibanding sekadar volume.
Perubahan strategi terlihat jelas di sektor kopi dan lada. Vietnam tidak lagi hanya mengekspor biji mentah, tetapi juga processed seperti kopi sangrai, kopi instan, dan produk siap konsumsi. Dalam kasus lada, meski volume turun tipis, nilai ekspor naik 26% karena kenaikan price jual rata-rata. Lada hitam dan putih kini dihargai lebih tinggi di pasar global, menunjukkan keberhasilan dalam value addition .
Namun, tantangan masih ada. Kualitas bahan baku dinilai belum consistent , dengan masalah pada ukuran, kematangan, dan residu pestisida. Pasar premium menuntut standar tinggi, dan tanpa standardization , kenaikan harga sulit dipertahankan. Di sisi lain, Indonesia hanya mengekspor US$6,88 miliar di sektor yang sama — sepersepuluh dari Vietnam — menunjukkan jarak yang kian lebar dalam market global.
Vietnam fokus ke nilai tambah, kita masih stuck di bahan mentah. Risiko di sini jelas: kita ketinggalan di global market pasar global.
Dulu kita juara kopi, sekarang mereka yang ambil alih. Harusnya kita bisa belajar dari cara mereka tingkatkan quality kualitas dan branding.
Masalahnya bukan hanya petani, tapi juga sistem. Sertifikasi, logistik, dan akses pasar masih barrier hambatan besar di sini.
Bayangkan kalau Indonesia serius. Dengan lahan sebesar ini, kita bisa saja jadi pesaing. Tapi tanpa decision keputusan politik yang kuat, hanya akan jadi wacana.
Michelin ada di Hanoi, restoran Vietnam menjamur di luar negeri. Mereka jualan budaya, bukan cuma produk. Itu smart pintar banget.
Jangan lupa, mereka juga impor lada dari kita. Artinya, kita jadi pemasok bahan baku, sementara mereka ambil profit keuntungan dari olahan akhir.