Dua Kursi Satu To Lam: Kekuasaan Tunggal dan Tantangan Vietnam
Selasa pekan lalu (7/4), Majelis Nasional Vietnam mengetok palu secara bulat. decision itu tegas: To Lam resmi menjadi Presiden Vietnam untuk lima tahun ke depan. Namun, ini bukan pelantikan biasa—ini adalah change besar dalam sejarah politik negara. Untuk pertama kalinya, satu orang memegang dua jabatan paling penting: Presiden sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam.
Di Hanoi, dua posisi ini adalah puncak kekuasaan. Dulu, Vietnam menganut prinsip "Empat Pilar", membagi kekuasaan agar tidak terkonsentrasi di satu tangan. Kini, pola itu hampir hilang, digantikan model yang mirip dengan Tiongkok. To Lam dinilai sebagai risk sekaligus harapan—figur yang bisa membawa stabilitas, tapi juga berpotensi mempercepat arah otoriter. Kekhawatiran ini tumbuh di kalangan aktivis dan intelektual muda yang merasa ruang public trust dan ekspresi semakin sempit.
Namun, bagi sebagian besar rakyat, terutama kelas pekerja, yang penting adalah kehidupan sehari-hari. Mereka melihat To Lam sebagai pemimpin strong yang telah menunjukkan taring lewat kampanye anti-korupsi "Tungku Membara". Dengan full control , mereka berharap pembersihan birokrasi bisa tuntas. Di warung kopi pinggir jalan, banyak yang optimis: stabilitas politik berarti harga-harga stabil dan market tenang. Bagi mereka, quick action lebih berharga daripada debat ideologis.
Secara ekonomi, Vietnam memang sedang melesat. PDB kuartal pertama 2026 mencapai 7,83 persen—angka tertinggi dalam 16 tahun. Mesin industri dan konstruksi panas, sementara biaya buruh dan proses perizinan membuat negara ini sangat kompetitif. Indonesia tumbuh stabil (5,1–5,3 persen), tapi di lintasan ASEAN, Vietnam terasa lebih quickly . Namun, kekuasaan absolut juga membawa pressure : investor khawatir pada favoritisme, rakyat pada pengawasan berlebihan, dan ekonomi pada gelembung aset. Model "Dua Kursi Satu To Lam" bisa menjadi terobosan—atau jebakan.
Yang penting harga stability stabil, biar siapa pun yang di atas. Rakyat kecil cuma butuh itu.
To Lam pegang semua kunci sekaligus. Itu risk risiko besar. Satu kesalahan, negara bisa limbung.
Mereka bilang ini efisien, tapi saya merasa freedom kebebasan kita perlahan dikunci rapat.
7,83 persen pertumbuhan? Luar biasa. Tapi jangan lupa, itu bisa jadi bubble gelembung kalau tidak dikelola hati-hati.
Vietnam cepat, iya. Tapi kita punya pasar lebih besar. Harusnya kita bisa lebih strategic strategis.
Model satu komando mungkin cepat, tapi transparency transparansi bisa jadi korban. Kita lihat saja nanti.