Formula Baru Harga Nikel Diterapkan, Siapa Diuntungkan dan Siapa Tertekan?
Pemerintah Indonesia resmi mengubah formula price acuan bijih nikel melalui Kepmen ESDM No. 144 Tahun 2026 yang mulai berlaku 15 April 2026. Perubahan ini bukan sekadar kenaikan angka, tetapi penyesuaian struktural yang membuat market domestik lebih menguntungkan bagi penambang. Salah satu kunci utama adalah peningkatan corrective factor dari sekitar 20% menjadi 30% untuk kadar tertentu, sehingga price jual ikut terdorong naik sebagai respons atas keluhan bahwa harga sebelumnya tidak mencerminkan biaya produksi.
Formula baru juga mulai memperhitungkan nilai by-product mineral seperti kobalt, besi, dan krom — yang sebelumnya sering dianggap tidak bernilai. Ini memberi additional value bagi penambang, terutama yang memiliki kandungan mineral campuran tinggi. Selain itu, satuan penghitungan beralih dari dry metric ton (dmt) ke wet metric ton (wmt), sehingga lebih sesuai dengan kondisi lapangan dan mengurangi potensi dispute dalam transaksi.
Di tengah perubahan ini, pasokan nikel juga ditekan. Kuota RKAB yang disetujui hingga April 2026 hanya 190 juta ton, jauh di bawah realisasi 2025 sebesar 379 juta ton. Langkah ini disengaja untuk mencegah oversupply dan menjaga global price tetap stabil. Meski demikian, demand dari sektor baterai masih lemah, dan produksi stainless steel meski tinggi, belum menunjukkan penguatan signifikan.
Dampaknya terhadap emiten saham pun bervariasi. Emiten upstream seperti INCO, NICE, dan DKFT cenderung diuntungkan karena kenaikan harga langsung meningkatkan pendapatan. Namun, bagi pemain yang memiliki smelter, terutama yang berbasis HPAL, kenaikan biaya bahan baku bisa pressure margin. Risiko ini bahkan bisa menjalar ke industri kendaraan listrik, di mana kenaikan input cost berpotensi mendorong harga jual EV lebih tinggi, terutama saat insentif pemerintah mulai berkurang.
Akhirnya mineral ikutan dihargai juga. Selama ini kami jual tanpa nilai tambah, sekarang ada revenue pendapatan dari kobalt dan krom. Tapi jangan lupa, logistik juga makin mahal, bisa offset mengimbangi keuntungan.
NICE paling diuntungkan karena murni penambang. Tapi waspada kalau produksi global naik, bisa reverse membalikkan tren harga. Jangan terlalu cepat celebrate berpesta.
Kenaikan biaya bahan baku ini bakal bikin margin smelter makin tipis. Kalau tidak bisa pass through meneruskan ke harga jual, ini risiko besar.
Pemerintah bilang mau dorong hilirisasi, tapi kebijakan ini malah menguntungkan yang jual bijih mentah. Ada contradiction kontradiksi di sini. Harusnya dorong nilai tambah, bukan justru incentivize memberi insentif ke ekspor mentah.
Jangka pendek positif untuk saham hulu, tapi long-term risk risiko jangka panjang tetap ada. Permintaan EV belum pulih, dan China bisa saja tambah produksi. Jangan lupa global supply pasokan global juga pengaruh besar.
Perubahan ke wmt itu langkah kecil tapi penting. Lebih adil dan transparent transparan untuk semua pihak. Tapi apakah ini cukup untuk stabilize menstabilkan pasar? Tunggu semester dua dulu.