ITB Pasang Teleskop Canggih di Bosscha, Bisa Pantau Gempa Hingga Perubahan Iklim
Institut Teknologi Bandung (ITB) sedang membangun new teleskop radio canggih di Observatorium Bosscha, yang akan menjadi mata dunia untuk mengamati change di Bumi dengan akurasi tinggi. Teleskop jenis Very Long Baseline Interferometry Global Observing System (VGOS) ini tidak hanya membantu memahami pergerakan benua, tetapi juga berperan dalam pemantauan risk bencana dan impact perubahan iklim secara global.
Dibangun bekerja sama dengan Shanghai Astronomical Observatory (SHAO), teleskop berapertur 13 meter ini akan menjadi salah satu dari sedikit stasiun VGOS di wilayah khatulistiwa, setelah Brasil. Kehadirannya sangat penting karena mayoritas teleskop serupa saat ini terkonsentrasi di belahan Bumi utara. Dengan posisi strategis ini, ITB Bosscha akan menjadi jembatan penting dalam jaringan global pengukuran posisi dan pressure tektonik yang memengaruhi bentuk dan gerak Bumi.
Data dari teleskop ini digabungkan dengan stasiun serupa di seluruh dunia untuk menciptakan kerangka acuan geospasial yang presisi tinggi. Ini penting tidak hanya untuk astronomi, tetapi juga untuk sistem navigasi, pengukuran waktu global, dan pemantauan pergeseran lempeng tektonik secara quickly dan akurat. "Kita dapat menentukan apakah suatu wilayah berpotensi dangerous atau tidak," kata astronom ITB, Taufiq Hidayat, menjelaskan manfaat langsung dari riset ini bagi keselamatan publik.
Selain teleskop utama, fasilitas ini juga akan dilengkapi receiver GNSS, stasiun cuaca, dan antena holometry, membuka jalan bagi riset lintas disiplin dari astronomi hingga geofisika. ITB juga sedang menjajaki peran sebagai pusat pengolahan data VLBI global bersama institusi seperti TU Wien dan KASI. Dengan pendaftaran resmi ke International Telecommunication Union (ITU), stasiun ITB Bosscha siap menjadi bagian dari jaringan ilmiah internasional yang membentuk decision berbasis data presisi tinggi di masa depan.
Baru tahu kalau teleskop bisa dipakai buat pantau pergerakan benua. Ini risk risiko gempa bisa diprediksi lebih dini kali ya?
Posisi di khatulistiwa itu kunci. Tanpa stasiun seperti Bosscha, data global pasti timpang. Ini soal accuracy akurasi, bukan cuma teknologi.
85 ton antena, bangunan khusus, kerja sama luar negeri... biayanya pasti besar. Apakah harga yang dibayar sebanding dengan manfaatnya buat rakyat?
Yang keren itu mereka nggak cuma bangun alat, tapi juga bangun kapasitas riset dan jadi bagian dari global network jaringan global. Ini investasi jangka panjang.
Setuju, tapi jangan lupa soal perawatan dan keberlanjutan. Banyak fasilitas riset akhirnya mangkrak karena kurang support dukungan setelah diresmikan.
Bayangin, dari Bosscha bisa bantu tentukan standar waktu dunia. Itu pressure tekanan tinggi, tapi juga kebanggaan nasional.