Mahasiswa UGM Menang Hackathon Dunia — Dengan Proyek yang Dibuat AI Sendirian
student dari Universitas Gadjah Mada kembali membuat kejutan di kancah global , bukan melalui lomba debat atau riset akademik, melainkan lewat sebuah project blockchain yang dibangun sepenuhnya oleh kecerdasan buatan. Axel Urwawuska Atarubby, freshman Teknologi Informasi angkatan 2024, meraih juara ketiga di kategori Best Agent on Celo pada ajang Celo Real World Agent Hackathon V2. Yang mengejutkan? Ia hampir tidak menulis satu baris kode pun. Seluruh development dilakukan oleh AI agent otonom dalam waktu kurang dari setengah hari.
Platform yang ia beri nama AgentHands adalah marketplace terdesentralisasi di mana agen AI justru menjadi pemberi kerja. Mereka yang terverifikasi bisa melamar tugas seperti purchasing bahan pokok, repair server, atau delivery paket. Dengan memanfaatkan Self Protocol berbasis Zero-Knowledge Proof, identitas manusia tetap aman namun bisa diverifikasi. Semua transaksi berjalan di blockchain Celo, jaringan lapis dua Ethereum yang fokus pada inklusi keuangan global.
Yang paling mencengangkan: seluruh proyek—dari kontrak cerdas hingga demo video—dibuat dalam 11 jam oleh satu AI agent. Agent ini berjalan di platform OpenClaw dan menggunakan model Claude Opus 4.6 dari Anthropic. Secara mandiri, ia menulis kode dalam Solidity, men-deploy ke jaringan, membuat antarmuka dengan Next.js, bahkan menyusun pitch deck dan naskah suara menggunakan ElevenLabs. Axel hanya memberikan arah awal dan mengunggah hasil akhir. Ini bukan kolaborasi manusia-AI biasa—ini adalah otonomi penuh dengan arahan minimal.
Celo, sebagai ecosystem blockchain, memang dirancang untuk adopsi dunia nyata. Dengan lebih dari 700.000 transaksi harian dan integrasi ke dompet seperti MiniPay, jaringan ini menjadi salah satu yang paling aktif. Kompetisi hackathon ini menantang peserta menciptakan agen onchain yang berguna secara praktis. Axel, selaku president UGM Blockchain Club, membuktikan bahwa inovasi tak harus datang dari tim besar. Dengan vision dan alat yang tepat, satu orang bisa menciptakan dampak yang sebelumnya hanya mungkin dengan lima orang. Prestasi ini bukan sekadar kemenangan teknis, tapi pergeseran besar dalam cara kita memandang kreativitas digital.
future teknologi tampaknya bukan tentang manusia menggantikan mesin, tapi mesin yang mulai membuka jalan bagi manusia untuk scale lebih jauh. Axel tidak hanya menang dalam kompetisi—ia menunjukkan model baru untuk innovation : cepat, efisien, dan dibimbing oleh kecerdasan bukan manusia. Dalam dunia yang bergerak semakin cepat, satu individu dengan AI yang tepat bisa menjadi kekuatan global. Dan kali ini, kekuatan itu datang dari campus di Yogyakarta.
Jadi AI-nya yang kerja, dia cuma ngasih prompt? Keren sih, tapi sampai sejauh apa ini masih dianggap pencapaian manusia? achievement Prestasi atau sekadar penggunaan alat canggih?
Agent mempekerjakan manusia? Itu pembalikan logika yang sangat menarik. Kita selalu mikir AI sebagai asisten, tapi di sini posisinya terbalik.
11 jam buat bikin full project dari nol? Itu lebih cepat dari aku buat benerin Wi-Fi kosan.
Bangga punya mahasiswa kayak gini di UGM. Semoga makin banyak yang terinspirasi buat eksplor teknologi terkini tanpa takut gagal.
Tapi kalau semua udah dikerjain AI, ke depannya kita butuh programmer atau malah prompt engineer?
Ini bukan cuma soal teknologi, tapi soal imajinasi. Dia membayangkan dunia di mana AI punya agen, dan berhasil mewujudkannya.