Dua Siswa SMK Bobol NASA: Ketika Keisengan Jadi Pintu Masuk Dunia Cyber Global
pride kota tak selalu datang dari gedung pencakar langit atau perayaan mewah. Di Depok, dua student SMK justru membawa harum nama daerahnya lewat sesuatu yang tak kasat mata: celah di dunia maya. Menjelang HUT ke-27 Kota Depok, Rakha Hayya Ilhamsyah dan Balqis Amanda, siswa kelas 11 Teknik Komputer Jaringan di SMK Taruna Bhakti, berhasil menemukan kerentanan dalam sistem digital NASA. Bukan dengan senjata, tapi dengan pikiran tajam dan rasa ingin tahu yang tak kenal lelah. Prestasi ini bukan hanya lokal—tapi diakui oleh salah satu lembaga antariksa paling canggih di dunia.
Perjalanan mereka dimulai dari hal sederhana: curiosity . Rakha mengaku awalnya hanya iseng, tapi kemudian terinspirasi setelah melihat saudara temannya juara Lomba Kompetensi Siswa. Dari situ, istilah seperti bug hunting dan pengujian penetrasi mulai masuk dalam kosakata sehari-hari. Balqis menambahkan, mereka terdorong ikut serta karena melihat daerah lain sudah aktif, sementara Depok belum. Mereka pun bergabung melalui platform resmi seperti Bugcrowd dan HackerOne—dunia maya yang penuh dengan tantangan tak terlihat.
Metode mereka terdengar teknis, tapi sederhana dalam esensi: scanning domain untuk mencari tautan eksternal yang mati namun masih tercantum. risk dari celah ini besar—karena bisa dimanfaatkan peretas untuk menyusup. Setelah menemukan potensi ancaman, mereka melaporkannya secara resmi. Proses verifikasi tidak cepat; bisa memakan waktu hingga 90 hari. Platform mengecek keabsahan temuan terlebih dahulu sebelum meneruskannya ke NASA. Jika valid, penghargaan berupa certificate atau recognition diberikan.
Yang menarik, keahlian mereka bukan semata hasil dari kurikulum sekolah. Mereka belajar secara otodidak, didorong semangat dan dukungan dari lingkungan. Sekolah mereka memang memberi dasar jaringan komputer, tetapi penguasaan mendalam datang dari belajar mandiri. Mereka juga berterima kasih kepada komunitas seperti spectrasec.id dan mentor seperti Musa Hamongan Lubis, peringkat satu Hacker Komdigi. Ke depan, keduanya bercita-cita melanjutkan studi di kampus ternama seperti ITS, IPB, ITB, UI, dan UGM, dengan fokus pada keamanan siber. goal mereka jelas: mendalami keamanan digital secara serius—dan mungkin, suatu hari, kembali membawa nama Indonesia ke panggung global.
impressive Mengagumkan banget! Masih sekolah tapi udah nembus sistem NASA.
Anak-anak sekarang lebih pinter dari jaman saya sekolah. Tapi beneran, security keamanan siber itu penting banget sekarang.
90 hari untuk verifikasi? Itu berarti prosesnya ketat banget. Bukan sembarang laporan langsung dikasih penghargaan.
Ini bukti bahwa belajar mandiri bisa setara bahkan lebih dari pendidikan formal kalau ada dorongan.
Depok mulai unjuk gigi di bidang teknologi. Semoga ada lebih banyak lagi talenta muda seperti ini.
NASA aja bisa dibobol, apalagi sistem pemerintah kita? Harusnya pemerintah lebih serius urus digital security.
Saya kira bug hunting itu cuma buat orang kaya yang punya komputer mahal. Ternyata cukup dengan keingintahuan dan akses internet.
Bangga sama anak-anak muda zaman sekarang. Semangat mereka buat belajar itu luar biasa, apalagi di bidang yang rumit kayak technology teknologi.