Demokrat Serahkan Soal Reshuffle Kabinet ke Presiden: Agar Bisa Bekerja dengan Nyaman
Isu reshuffle kabinet yang santer terdengar menjelang awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mendapat tanggapan dari Partai Demokrat. Sekretaris Jenderal Demokrat, Herman Khaeron, secara tegas menyatakan bahwa keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan presiden. Ia menekankan bahwa authority untuk mengangkat atau mencopot menteri adalah hak prerogatif kepala negara.
Herman menegaskan bahwa partainya tidak akan campur tangan dalam proses seleksi kabinet. "Kalau masalah reshuffle kita serahkan kepada Presiden ya, karena bagaimanapun seluruhnya itu adalah decision dan hak prerogatifnya Presiden," ujarnya saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/4/2026). Pernyataan ini menunjukkan dukungan politik yang konsisten terhadap independensi presiden dalam membentuk tim kerjanya.
Langkah ini bisa dibaca sebagai bentuk support sekaligus strategi menjaga hubungan baik dengan istana. Dengan tidak memberi tekanan atau rekomendasi publik, Demokrat memberi ruang bagi Presiden Prabowo untuk bekerja tanpa pressure politik tambahan dari parlemen. Mereka tampaknya lebih memilih pendekatan diam yang mendukung ketimbang terlibat dalam wacana yang bisa memicu tension .
Isu reshuffle memang kerap muncul pada periode awal pemerintahan baru, sebagai bagian dari upaya menyegarkan kinerja atau menyeimbangkan political support . Namun, hingga kini belum ada official dari istana mengenai susunan baru atau perubahan mendatang. Yang jelas, sikap Demokrat menunjukkan bahwa setidaknya satu partai besar siap menerima change tanpa syarat, asalkan itu demi efektivitas pemerintahan.
Bagus juga kalau partai lain juga bisa netral seperti Demokrat, biar presiden bisa bekerja tanpa tekanan dari mana-mana.
Dukungan tanpa syarat? Atau malah menunggu peluang untuk minta jatah menteri nanti? Politik itu selalu ada calculation perhitungan.
Yang penting kinerja pemerintah stabil. Perombakan boleh saja, asal tidak terlalu frequent sering, nanti malah bikin birokrasi limbung.
Sikap Dewasa dari Demokrat. Tidak memanfaatkan isu untuk cari perhatian. Bisa jadi contoh buat partai lain.
Tapi jangan sampai reshuffle malah jadi alat bagi-bagi kekuasaan, bukan soal kompetensi. Rakyat butuh menteri yang bekerja, bukan yang main manuver.
Tunggu saja laporan resmi dari istana. Selama belum ada announcement pengumuman, semua masih spekulasi.