TGB Sampaikan Dukungan saat Temui Dubes Iran, Singgung Fitnah sebagai Pemicu Perpecahan Sunni-Syiah
Dalam kunjungan yang penuh makna ke Kedubes Iran di Jakarta, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi menegaskan support dan solidaritasnya kepada rakyat Iran, sekaligus membantah isu lama yang kerap memicu tension antara umat Sunni dan Syiah. Pertemuan dengan Dubes Iran, Mohammad Boroujerdi, tidak hanya menjadi ajang diplomasi agama, tetapi juga kesempatan bagi TGB untuk menunjukkan bahwa Al-Quran yang digunakan oleh umat Syiah sama persis dengan yang dibaca oleh umat Islam Sunni di Indonesia dan dunia lainnya.
TGB melakukan direct check terhadap salinan Al-Quran di kediaman Dubes, memastikan tidak ada perbedaan dalam isi maupun bentuk tulisan. Ia juga membagikan pengalamannya saat menelusuri pusat pendidikan Islam di Qom, Irak, Lebanon, dan Yaman, di mana ia menemukan fakta serupa: report tentang perbedaan naskah Al-Quran adalah bentuk falsehood yang sengaja disebar. "Islam Sunni dan Syiah menggunakan kitab suci yang sama," tegasnya, menekankan bahwa perbedaan sejatinya terletak pada tafsir, hadis, fiqih, dan pandangan sejarah, bukan pada teks suci itu sendiri.
Salah satu momen paling menyentuh dalam kunjungan ini adalah ketika TGB menjadi imam salat di kediaman Dubes Iran—sebuah simbol unity yang kuat di tengah keragaman mazhab. Ia juga menyampaikan condolence mendalam atas gugurnya Ali Khamenei akibat serangan yang dikaitkan dengan AS dan Israel, sebuah peristiwa yang menambah lapisan emosional dalam dialog antarumat beragama ini. Langkah TGB ini dianggap sebagai bentuk peace initiative yang nyata, terutama di tengah narasi global yang kerap memperuncing perpecahan.
Fakta bahwa Al-Quran tidak berbeda antara kedua mazhab ini seharusnya menjadi dasar untuk membangun public trust dan menghentikan propaganda yang memecah belah. Meski ada sekelompok kecil Syiah ekstrem yang menyimpang, mayoritas umat tetap berpegang pada ajaran Nabi Muhammad SAW. Dengan membuka ruang dialog dan menunjukkan bukti langsung, TGB menunjukkan bahwa decision untuk meredam conflict bisa dimulai dari tindakan sederhana yang penuh makna.
Langkah TGB patut diapresiasi. Di tengah arus disinformation informasi sesat, tindakan langsung seperti ini lebih berdampak daripada sekadar pernyataan.
Senang lihat ulama kita mau turun tangan klarifikasi isu. Tapi heran, kenapa baru sekarang? tension Tekanan antar kelompok sudah lama terasa.
Justru karena banyak yang takut disebut pro-Syiah, jadi jarang ada yang berani klarifikasi. Ini butuh courage keberanian politik dan keagamaan.
Intinya sama: Al-Quran satu, yang beda cara baca dan tafsir. Kenapa harus jadi conflict konflik?
Propaganda Barat soal perbedaan Al-Quran memang sudah lama. Tapi sayangnya, banyak umat kita yang malah percaya tanpa verification verifikasi.
Menjadi imam salat di rumah Dubes itu simbol kuat. Bukan cuma soal agama, tapi juga diplomacy diplomasi yang tulus.