Erdogan Ingatkan Trump Soal Sabotase Gencatan Senjata, Netanyahu Bereaksi dengan Kemarahan
Ketegangan diplomatik memanas setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memberi warning kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal potensi sabotase terhadap ceasefire dengan Iran. Dalam call yang terjadi tak lama setelah kesepakatan diumumkan, Erdogan menyebut adanya risk provokasi yang bisa menggagalkan deal , meski tanpa menyebut pihak mana pun secara langsung.
Respons Israel datang cepat dan keras. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membalas dengan anger melalui media sosial, menuding Erdogan justru mendukung rezim yang disebutnya teroris sambil menekan kelompok Kurdi di dalam negeri. Ia menegaskan bahwa Israel akan terus melawan pengaruh Iran, berbeda dari Turki yang dinilainya accommodating ancaman tersebut.
Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, memperkeras nada dengan menyebut Erdogan sebagai paper tiger , merujuk pada kurangnya respons Ankara terhadap serangan rudal Iran ke wilayah Turki. Ia juga mengecam Turki karena membuka show trial terhadap kepemimpinan militer dan politik Israel, yang disebutnya bentuk antisemitisme yang dialihkan.
Di sisi lain, Turki membantah tudingan tersebut dan menyebut kemarahan Netanyahu sebagai bukti discomfort terhadap kebenaran yang terungkap. Wakil Presiden Cevdet Yilmaz menyatakan bahwa truth selalu menjadi mimpi buruk bagi penjajah, sementara Menteri Hukum Akin Gurlek menyoroti bahwa Netanyahu sendiri berstatus buron Mahkamah Pidana Internasional, menunjukkan moral dan krisis hukum yang dalam.
Erdogan memang selalu cepat respond merespons isu internasional, tapi kadang terasa lebih politis daripada taktis.
Netanyahu marah bukan karena ancaman nyata, tapi karena pressure tekanan diplomasi mulai bergeser. Ini soal narasi, bukan hanya keamanan.
Turki bilang soal kebenaran, Israel bilang soal terorisme. Dua narasi, satu konflik yang endless tak berujung.
Yang lucu itu sebutan 'macan kertas'. Tapi kalau dipikir, image citra kepemimpinan emang sering jadi pertaruhan di sini.
Jadi pertanyaannya: siapa sebenarnya yang paling berkepentingan agar gencatan senjata ini fail gagal?
Netanyahu kena arrest warrant surat perintah penangkapan, tapi masih bisa ngomong tinggi. Ironi politik internasional bener-bener kelewatan.