Kader NasDem Geram atas Sampul Tempo soal Wacana Merger dengan Gerindra

Sejumlah kader political Partai NasDem menyuarakan protest keras terhadap cover Majalah Tempo yang menampilkan Ketua Umum Surya Paloh dalam konteks wacana merger dengan Partai Gerindra. Aksi unjuk rasa digelar di depan kantor Tempo pada Selasa (14/4), menuntut permintaan maaf karena dinilai telah damage martabat pimpinan partai melalui framing visual yang provokatif.

Wibi Andrino, Ketua DPW NasDem DKI Jakarta, menekankan bahwa kritik terhadap tokoh politik boleh tajam, tetapi harus tetap menjaga ethics . "Kritik boleh keras. Tapi etika tetap harus jadi batas. Jangan sampai kebebasan berubah menjadi kehilangan arah," katanya, menggarisbawahi pentingnya batas dalam press freedom agar tidak melampaui norma professional yang berlaku.

Willy Aditya dari DPP NasDem menolak penggunaan istilah merger, menyebutnya sebagai tanda incompetence dalam literatur politik. Ia menjelaskan bahwa Surya Paloh hanya membuka wacana tentang political block , bukan peleburan partai. "Pemahamannya jangan merger dong. Ini orang yang nggak baca, orang yang nggak memiliki literatur politik," tegasnya, menyoroti misunderstanding yang bisa memicu distorsi publik.

Martin Manurung, Wakil Ketua Baleg DPR dari Fraksi NasDem, menilai laporan Tempo telah melanggar kode etik jurnalistik karena gagal melakukan verification yang memadai. Ia mendesak Dewan Pers untuk turun tangan sebagai watchdog independen. Di tingkat daerah, Ketua DPW NasDem Sumut Iskandar ST menegaskan bahwa NasDem bukan entitas bisnis yang bisa diakuisisi, melainkan wadah perjuangan rakyat—sebuah principle yang tidak boleh dikaburkan oleh sensational media.

Reaksi 6

  • P
    PakRT

    Ini bukan soal tersinggung, tapi soal integritas laporan. Jurnalistik harusnya mengedepankan accuracy , bukan sensationalism .

  • N
    NinaMedan

    Dari dulu NasDem konsisten bicara rakyat, bukan business politik. Jelas ini pelintiran.

  • J
    JurnalisCeria

    Cover majalah emang punya impact besar. Tapi bukan berarti bisa seenaknya frame narasi tanpa konfirmasi.

  • P
    PencatatSejarah

    Blok politik itu wajar, tapi merger? Itu istilah korporat, bukan political culture kita. Tempo kurang context kali ya.

  • W
    WargaBiasa

    Yang bikin geram itu bukan kritiknya, tapi cara sampaikannya. Hormat itu dasar, meski beda opinion .

  • A
    AnakMudaNKRI

    Dewan Pers harus segera respond . Kalau tidak, ini jadi preseden buruk buat media trust .

Artikel ini berbasis fakta dan disusun ulang untuk tujuan pembelajaran bahasa Inggris; reaksi pembaca adalah contoh dari beragam sudut pandang.

[email protected]