NasDem Tegaskan Isu Merger dengan Gerindra Cacat Logika dan Tak Masuk Akal
Anggota DPR dari Fraksi Partai NasDem, Arif Rahman, menegaskan bahwa isu merger partainya dengan Partai Gerindra adalah sesuatu yang illogical dan tidak masuk akal. Menurutnya, hubungan baik antar pimpinan partai tidak lantas berarti ada rencana peleburan organisasi politik yang masing-masing memiliki basis dan sejarah panjang.
Arif menekankan bahwa kedekatan Ketua Umum NasDem Surya Paloh dan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto tidak boleh misinterpreted sebagai sinyal fusi partai. "Bagaimana mungkin NasDem, yang telah berdiri 15 tahun dengan pengorbanan besar, harus dissolved hanya karena tidak masuk koalisi pemerintah? Ini di luar nalar," ujarnya, menunjukkan public trust yang harus dijaga.
Legislator dari Dapil Banten I ini menolak anggapan bahwa NasDem bisa digabungkan seperti perusahaan. "Partai NasDem bukan PT Tbk. Kami punya responsibility politik terhadap 14,6 juta pemilih yang memberi 9,6 persen suara di Pemilu 2024," tegas Arif. Dia menambahkan, struktur kader yang berasal dari berbagai ormas membuat partai tidak bisa simplified dalam narasi merger yang viral.
Arif juga menyoroti timing kemunculan isu ini, yang baru ramai setelah pertemuan Paloh-Prabowo pada Februari. "Kenapa baru muncul sekarang? Pasti ada motive di balik ini," katanya. Wakil Ketua Umum NasDem Saan Mustopa sebelumnya menyebut wacana semacam ini biasa dalam politik, meski realisasi fusi sangat rumit karena menyangkut ideology , identitas, dan eksistensi partai.
Logikanya bocor banget sih isu ini. Mau dissolved dilebur gara-gara beda koalisi? Partai bukan perusahaan yang bisa take over begitu saja.
Tapi tetap ada pressure tekanan dari dinamika politik, apalagi pasca-Pemilu. NasDem pasti merasa diuji, meski secara resmi menolak.
Yang bikin curiga itu timing waktunya. Kenapa isu ini muncul pas partai lain lagi butuh dukungan? Motif politik jelas ada.
Fusi partai itu bukan cuma soal perjanjian elite. Ada ideology ideologi dan basis massa yang nggak bisa dikompromikan semudah itu.
NasDem punya responsibility tanggung jawab ke 14 juta lebih pemilih. Mereka nggak mungkin abandon mengkhianati mandat cuma karena isu.
Kalau hubungan personal dikira bisa merge menggabungkan partai, berarti nggak paham sistem politik kita sama sekali. Cacat logika beneran.