Nafta Langka, Menperin Cari Sumber Baru Jadi Calon Supplier Selain Timur Tengah
Kelangkaan supply nafta secara global memaksa Indonesia mencari new baru di luar ketergantungan pada Timur Tengah. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa konflik geopolitik antara AS-Israel dengan Iran mengganggu aliran bahan baku plastic yang krusial bagi industri petrokimia. Dalam situasi seperti ini, kemandirian supply chain menjadi priority utama agar sektor manufaktur tetap berjalan stabil.
Agus menekankan pentingnya adaptation strategi oleh perusahaan, terutama dalam mengamankan bahan baku di tengah global competition yang semakin ketat. Ia mendorong pelaku industri untuk melihat peta produsen nafta dunia sebagai panduan mencari supplier alternatif. "Lihat siapa yang memproduksi nafta, itu potensi calon partner kita," katanya saat hadir di pameran Indo Intertex 2026 di Jakarta.
Tidak hanya sektor plastik, kelangkaan ini juga berdampak pada industri tekstil dan produk tekstil (TPT), yang sangat bergantung pada bahan baku turunan petrokimia. Menurut Agus, isu pasokan menjadi major concern pelaku industri saat ini. Namun, ia tetap optimistis bahwa dengan resilience yang terbukti saat pandemi, industri Indonesia mampu pulih lebih quickly dibanding negara lain ketika krisis berakhir.
Respons nyata sudah mulai terlihat. Jemmy Kartiwa Sastraatmadja, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), mengonfirmasi bahwa sejumlah anggota API telah berhasil mendapatkan pasokan kecil dari Petronas di Malaysia. Langkah ini menunjukkan bahwa diversifikasi sumber bukan sekadar wacana, tetapi bagian dari real strategy untuk mengurangi risk dan menekan pressure pada rantai pasok. Ke depan, keputusan business decision semacam ini akan semakin menentukan daya saing industri nasional.
Kalau Malaysia bisa, kenapa tidak kita dorong kerja sama lebih dalam? supply Pasokan yang stabil itu kunci.
Ternyata dampak geopolitik sampai ke pabrik kain juga. pressure Tekanan ke TPT makin besar nih.
Mereka bilang optimis, tapi nyatanya kita masih cari-cari supplier pemasok darurat. Seperti biasa, reaksi, bukan strategi jangka panjang.
Resiliensi pasca-COVID emang terbukti, tapi ini kan beda jenis crisis krisis. Harusnya sudah ada cadangan atau pengganti sejak lama.
Petronas dari Malaysia mulai masuk, bagus. Tapi jangan sampai kita terlalu dependent tergantung ke satu negara lagi.
Diversifikasi itu penting, tapi jangan lupa soal cost biaya. Pasokan baru belum tentu lebih murah.