Tempat Maruarar-Hercules Adu Argumen di Tanah Abang Dulu Kawasan Red District
Di tengah hiruk-pikuk Tanah Abang, sebuah lahan kosong di belakang Blok G menyimpan history yang panjang dan penuh change . Dulu dikenal sebagai kawasan kumuh dan tempat hiburan illegal , masyarakat menyebutnya 'red district'. Lokasi yang kini dipakai sebagai parkir truk logistik dan mobil pedagang ini sempat menjadi simbol public trust yang rapuh terhadap janji pembangunan.
Rencana membangun rumah susun di lahan ini sudah muncul sejak masa Gubernur Fauzi Bowo, tetapi tak pernah terealisasi. Baru di era Gubernur Joko Widodo, lahan dibongkar, tapi pembangunan rusun kembali mangkrak. "Baru saja dibongkar, tapi tidak ada decision lanjutan," kata warga setempat. Sejak saat itu, PT Kereta Api Indonesia memagari lahan, meski tidak pernah dimanfaatkan sesuai rencana awal.
Setelah pembongkaran, pedagang kembali menguasai lahan dan berjualan di sana, sehingga muncul Pasar Tasik yang sempat eksis hingga 2018. Pemindahan pasar ke Cideng tidak mengubah nasib lahan—ia tetap empty . Dalam kondisi seperti ini, pemanfaatan lahan untuk parkir menjadi solusi praktis, meski bukan yang official . Ini mencerminkan pressure terus-menerus antara kebutuhan ruang dan public policy yang lamban.
Lahan ini juga pernah menjadi lokasi prostitusi yang baru ditertibkan pada 2013 di bawah kebijakan Jokowi-Ahok. Bahkan Wakil Gubernur Ahok mengaku awalnya tidak tahu keberadaan tempat itu karena aksesnya yang tertutup. Berulang kali penertiban dilakukan sejak 1980-an, tapi aktivitas risk tetap muncul. Hingga kini, lahan yang penuh impact sosial ini masih menunggu real change .
Dari zaman Foke sampai sekarang, janji rusun selalu delayed ditunda. Padahal pedagang butuh tempat layak, bukan hanya parking parkiran darurat.
Lahan kosong begini selalu jadi magnet untuk dimanfaatkan liar. Kalau pemerintah tidak cepat action bertindak, ya begini terus hasilnya.
Ironis, lahan yang dulu jadi simbol moral issue masalah moral sekarang jadi tempat parkir. Tapi setidaknya lebih baik daripada tempat prostitusi.
Pernah lewat sini pagi hari, truk logistik parkir berjam-jam. Bayangin logistics cost biaya logistik yang naik karena waktu terbuang.
Menarik bahwa Ahok sendiri dulu tidak tahu lokasi ini. Menunjukkan betapa transparansi dan public report laporan publik itu penting.
Kapan juga lahan-lahan mangkrak di kota besar akan benar-benar dimanfaatkan untuk rakyat, bukan sekadar empty space ruang kosong yang terlupakan?