IDAI: Kenaikan Kasus Campak Akibat Vaksinasi Tidak Optimal dan Rendahnya Kepercayaan Publik
Kasus new campak yang terus rise di Indonesia menjadi alarm keras bagi sistem kesehatan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa risk kembalinya penyakit yang sebenarnya bisa dicegah semacam campak dan polio muncul karena cakupan vaksinasi belum mencapai target nasional. Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menyatakan bahwa kemunculan kembali penyakit ini adalah tanda bahwa public trust terhadap vaksin semakin weak .
Angka reproduksi (R0) campak yang sangat tinggi, mencapai 12 hingga 18, berarti satu orang yang terinfeksi bisa menularkan ke belasan orang lain. Untuk membentuk herd immunity , cakupan imunisasi harus mencapai lebih dari 95 persen. Namun kenyataannya, banyak daerah justru mengalami decline partisipasi vaksinasi, sehingga membuka celah terjadinya outbreak (KLB) di komunitas yang rentan.
Salah satu faktor utama yang disoroti IDAI adalah maraknya misinformation di media sosial. Tekanan terhadap program kesehatan muncul bukan hanya dari ketidaktahuan, tetapi juga dari menurunnya confidence terhadap institusi pemerintah. "Ketika masyarakat mulai ragu terhadap vaksin, program yang sebenarnya baik jadi tidak dipercaya," tegas Piprim, menyoroti impact jangka panjang dari keraguan kolektif.
IDAI menekankan bahwa campak termasuk dalam kategori Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I), yang artinya kematian atau komplikasi akibat penyakit ini seharusnya tidak perlu terjadi. Dengan response yang cepat dan kampanye edukasi yang lebih masif, diharapkan change perilaku bisa terjadi sebelum situation semakin sulit dikendalikan. Perlindungan anak bukan hanya tanggung jawab orang tua, tetapi juga entire community .
Anak saya sempat demam tinggi setelah vaksin dulu, makanya saya jadi ragu. Tapi baca ini, saya sadar risk risiko kalau tidak divaksin justru lebih besar.
Pemerintah sibuk cari dana, tapi edukasi ke desa-desa kurang. Di sini vaksin gratis, tapi orang tetap takut. Kepercayaan sudah goyah, perlu kerja keras memulihkannya.
Saya turun langsung ke lapangan. Banyak yang bilang vaksin 'haram' padahal MUI sudah jelas. Informasi salah menyebar lebih cepat dari edukasi kita.
Logikanya sederhana: kalau 95% divaksin, yang 5% aman. Tapi kalau cakupan turun, semua orang jadi vulnerable rentan.
Dulu zaman kecil semua divaksin, nggak ada yang protes. Sekarang malah banyak yang resist menolak. Apa karena medsos terlalu bebas?
Di Cianjur kemarin ada dokter muda meninggal karena campak. Itu bukan flu biasa. Situasi ini serius, jangan dianggap main-main.