Dua Mantan PM Bersatu Lawan Sang Raja: Bisakah 'Bersama' Menggulingkan Netanyahu?
former Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett dan Yair Lapid, dulu saling rival , kini berdiri berdampingan. Dalam langkah politik yang mengejutkan, dua tokoh yang pernah menggulingkan Benjamin Netanyahu kembali unite untuk menantangnya sekali lagi. Koalisi ini bukan sekadar aliansi taktis—ini adalah upaya terakhir untuk menyelamatkan blok oposisi yang terpecah-pecah, dengan satu kesamaan: penolakan terhadap kepemimpinan Netanyahu yang panjang dan kontroversial.
Bennett, tokoh sayap kanan yang pernah menjadi commander , dan Lapid, politisi sentris yang dikenal tegas, mengumumkan penggabungan partai mereka—Bennett 2026 dan There is a Future—dalam pernyataan bersama yang disiarkan langsung. Partai gabungan ini akan bernama "together ", dengan Bennett sebagai pemimpin. "Langkah paling patriotic yang pernah kami ambil untuk negara kami," kata Bennett, menekankan dimensi moral dari aliansi ini. Lapid menambahkan bahwa meski berbeda aliran, ada trust di antara mereka—kata kunci dalam dunia politik yang penuh intrik.
Sentimen publik tampaknya mulai bergeser. Jajak pendapat oleh N12 News Israel menunjukkan Bennett bisa meraih 21 kursi di Knesset, mengejar ketat 25 kursi milik Partai Likud. Angka ini mencerminkan frustration yang mendalam terhadap pemerintahan Netanyahu, terutama setelah serangan 7 Oktober 2023 oleh Hamas—yang disebut Bennett sebagai kegagalan nasional yang perlu diselidiki. Lapid, sementara itu, mengkritik gencatan senjata dua minggu dengan Iran sebagai "bencana politik", menunjukkan sikap keras terhadap kebijakan luar negeri yang dianggap lemah.
Namun, sejarah membayangi. Koalisi Bennett-Lapid sebelumnya hanya bertahan less than 18 bulan. Kerapuhan aliansi lintas-ideologi bukan hal baru di Israel. Kali ini, mereka tidak hanya bertarung melawan Netanyahu, tetapi juga melawan division internal, doubt publik, dan ingatan akan kegagalan masa lalu. Pertanyaannya bukan hanya apakah mereka bisa menang, tapi apakah mereka bisa endure jika menang. Pemilu mendatang bukan sekadar kontes kekuasaan—ini adalah ujian terhadap jiwa demokrasi Israel itu sendiri.
Menarik melihat mantan rivals rival bersatu lagi. Tapi apakah ideologi bisa dikompromikan hanya karena satu musuh bersama?
Lapid bilang gencatan senjata itu bencana. Tapi rakyat butuh peace damai, bukan hanya retorika heroik.
Bersatu untuk menggulingkan seseorang itu mudah. Tapi mereka punya vision visi bersama selain benci Netanyahu?
21 kursi itu bagus, tapi belum cukup. Mereka butuh allies sekutu kuat dari partai Arab atau sentris untuk membentuk mayoritas.
Akhirnya ada yang berani bicara soal 7 Oktober. Anak saya trauma sejak serangan itu. Butuh pertanggungjawaban, bukan hanya janji.
Bennett jatuh sendiri dulu. Sekarang dia datang lagi? Ini bukan patriotik, ini ambisi pribadi.
Media lokal terlalu fokus pada drama berdua ini. Padahal isu ekonomi dan korupsi hampir tak disentuh.
Bennett mantan jutawan teknologi. Semoga dia bawa innovation inovasi ke pemerintahan, bukan hanya retorika lama.