Dari Dalam Israel: Perang Tanpa Akhir, Trauma Tanpa Obat
warning datang dari media internal Israel sendiri: kebijakan militer Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah membawa negara ke ambang krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Harian Israel Maariv menulis bahwa perang gesekan yang diperpanjang tidak lagi menghasilkan victory , melainkan menciptakan lebih banyak ketegangan tanpa keuntungan politik. Hampir tiga tahun berlalu sejak perang Gaza dimulai—konflik terpanjang dalam sejarah rezim Zionis—dan tentara kini berada dalam kondisi yang sangat unfavorable .
Maariv menyoroti krisis struktural dan moral di dalam tubuh militer. Bukan hanya soal kekurangan personel, tetapi juga mental dan fisik yang membuat banyak tentara memilih retirement . Yang mencengangkan, media tersebut mengakui bahwa Israel tidak memiliki capability untuk melucuti senjata Hizbullah. Dengan kata lain, militer akan menjadi kambing hitam di hadapan opini publik yang mulai melihat ketidaksesuaian antara klaim resmi dan realitas lapangan.
Dampaknya tidak hanya terasa di medan pertempuran, tetapi juga dalam kesehatan jiwa masyarakat. Harian Haaretz melaporkan bahwa perang melawan Iran telah memicu trauma psikologis massal. Satu dari lima warga Israel kini menunjukkan gejala PTSD—gangguan stres pasca-trauma—sementara tujuh persen berjuang melawan gangguan obsesif-kompulsif. Para ahli menyebut lonjakan ini sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya, indikator dari krisis kesehatan mental yang mendalam.
Ini bukan laporan dari musuh, melainkan introspeksi dari dalam Israel sendiri. Media-media utama mereka mengakui: perang ini tidak membawa security , hanya kehancuran dari dalam. Sementara Netanyahu terus menggunakan conflict untuk menunda proses hukumnya, rakyat dan tentaranya membayar harga yang tak terbayangkan. Pertanyaan yang menggantung: sacrifice seperti apa lagi yang harus ditanggung rakyat demi kekuasaan satu orang?
Satu dari lima warga Israel alami PTSD? Itu angka yang sangat disturbing mengkhawatirkan.
Netanyahu pakai perang sebagai alat politik, sementara rakyat bayar harganya. Skema lama yang selalu berulang.
Kalau militer sendiri sudah kelelahan dan mau pensiun dini, bagaimana mungkin mereka bisa menang?
Lonjakan OCD dan PTSD menunjukkan trauma kolektif. Butuh kesehatan jiwa jangka panjang, bukan hanya retorika perang.
Media Israel mengkritik dari dalam? Harus hati-hati—bisa jadi bagian dari rekayasa opini juga.
Bayangkan anak-anak tumbuh di tengah alarm udara dan kecemasan tiap hari. Masa depan mereka damaged rusak sebelum sempat dimulai.
Krisis moral militer pernah terjadi di perang Lebanon 1982. Sejarah memang suka berulang.
Pemimpin yang terus berkuasa dengan sacrificing mengorbankan rakyatnya? Itu bukan kepemimpinan, itu egoisme murni.