Dari Masjid Kaltim, Imam Dunia Dirangkul untuk Perdamaian
Baybay di coastline Kalimantan Timur bukan hanya menyimpan hamparan pasir dan debur ombak, tapi juga ambisi besar untuk perdamaian dunia. Di tengah gathering ribuan jamaah di Islamic Center Samarinda, sebuah conference keagamaan digelar dengan visi yang jauh melampaui batas provinsi. Tanggal 25 April 2026 menjadi simbolik saat para imam dari berbagai penjuru Kaltim bersatu dalam istighosah dan tabligh akbar, menandai launch International Grand Imam Conference 2026 — sebuah gerakan yang ingin mengubah mosque dari ruang ibadah menjadi pusat diplomasi global.
Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa Kaltim dipilih bukan secara kebetulan. Sebagai entry point menuju konferensi internasional, provinsi ini akan menjadi panggung bagi diplomasi keagamaan yang dianggap lebih dalam daripada formal negosiasi politik. 'Kalau diplomasi dilakukan dengan cara-cara formal, ternyata tidak selalu berhasil menghentikan peperangan atau ketegangan,' katanya. 'Karena itu kita mencoba merujuk kepada hati nurani yang paling dalam.' Visi ini mengandalkan pesan kemanusiaan yang universal — satu, tanpa warna, tanpa batas agama atau etnis.
Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, melihat peran imam jauh melampaui mimbar. Baginya, mereka adalah penjaga harmoni di tengah masyarakat yang majemuk. 'Kaltim ini miniatur Indonesia yang merupakan rumah besar. Rumah ini harus kita jaga, kita rawat, dan kita perkuat bersama-sama,' ujarnya. Dalam konteks ini, masjid bukan hanya tempat salat, tapi juga community yang hidup — ruang di mana perbedaan dirangkul, bukan ditakuti. Ia pun memohon doa agar daerahnya tetap blessed , jauh dari konflik dan perpecahan, serta menjadi contoh peaceful yang bisa diteladani.
Sabilul Alif, Ketua Steering Committee, menekankan bahwa imam bukan sekadar pemimpin ritual, melainkan leaders umat dan agen perubahan. Di tengah gelombang polarisasi dan penyebaran paham ekstrem, peran mereka semakin strategis. 'Dari masjid kita rajut persatuan, dari para imam kita pancarkan pesan damai ke seluruh penjuru negeri bahkan dunia,' katanya. Konferensi ini bukan hanya tentang unity , tapi tentang bagaimana rohani bisa menjadi kekuatan nyata dalam meredam konflik global.
Semoga konferensi ini bukan hanya seremoni, tapi benar-benar menghasilkan action plan rencana aksi nyata.
Imam di kampung saya tiap Jumat selalu sampaikan pesan damai, tapi jarang ada ruang untuk mereka bicara di level nasional.
Diplomasi keagamaan kedengarannya bagus, tapi apakah cukup kuat menghadang geopolitik yang keras?
Senang sekali Kaltim jadi tuan rumah. Semoga jadi berkah dan menarik lebih banyak perhatian internasional.
Allahu akbar. Dari masjid, kita sebarkan cinta.
Pesan 'humanity is only one' itu menyentuh. Tapi di lapangan, masih banyak yang memakai agama untuk memecah.
Kalau imam bisa jadi mediator mediasi antar kelompok, kenapa tidak? Mereka punya kredibilitas di masyarakat.