Kecoa Berdesis Jadi Pahlawan: Robot Biohibrida Undip Raih Emas di MTE 2026
Bayangkan tim penyelamat yang kesulitan menjangkau korban di balik rubble bencana — lorong sempit, struktur rapuh, deteksi manual yang lambat. Kini, sebuah tim mahasiswa Indonesia datang dengan solusi yang terdengar seperti fiksi ilmiah: robot kecoa. Tim Rotect dari Universitas Diponegoro (Undip) membawa pulang medali emas dari Malaysia Technology Expo (MTE) 2026 lewat inovasi mereka, system pencarian korban berbasis kecoa berdesis Madagaskar. Dalam ajang Asia Youth Innovation Awards, mereka mengungguli hundreds tim dari berbagai negara, membuktikan bahwa ide gila jika digarap serius bisa mengubah dunia.
Nama proyek mereka panjang: “ROACH-DETECT: Cyborg Cockroach-Based System for Victim Detection in Disaster Ruins Using Edge Computing for SAR Operations”. Tapi intinya sederhana: cockroach hidup yang dipasangi modul elektronik, berfungsi sebagai detector korban. Kecoa berdesis Madagaskar — makhluk yang lincah dan kuat — digunakan karena mampu menyusup ke celah sempit yang tidak bisa dijangkau anjing pelacak atau drone. Muhammad Faizul Kirom, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa mereka memanfaatkan pendekatan biohibrida, menggabungkan makhluk hidup dengan teknologi. Melalui stimulus listrik, arah gerak kecoa bisa dikendalikan dari jarak jauh.
Di punggung kecoa tersemat backpack berbasis mikrokontroler, yang bertindak sebagai pusat kontrol dan pemrosesan data. Saat kecoa mendeteksi panas tubuh manusia, informasi tersebut langsung dikirim ke monitoring yang bisa diakses tim SAR. Ini bukan sekadar gadget unik — ini adalah sistem deteksi korban yang memanfaatkan natural seekor serangga, diperkuat oleh komputasi canggih. Dalam kondisi darurat, setiap detik berharga, dan kecoa kecil ini bisa menjadi penyelamat yang tak terduga.
Meski meraih emas, tim ini tidak puas. Mega Adinda Ramadhani mengaku hasil ini di luar expectation . Mereka ingin inovasi ini tidak berhenti di ajang competition , tapi benar-benar diujicobakan di lapangan. “Kami berharap ini bisa diimplementasikan secara nyata,” katanya. Di tengah krisis iklim dan bencana yang kian sering, technology seperti ROACH-DETECT mungkin bukan lagi sekadar eksperimen — tapi solution yang sedang menunggu waktunya tiba.
Keren! Siapa sangka kecoa bisa jadi hero pahlawan?
Tapi gimana dengan etika memakai makhluk hidup sebagai alat? Apa kecoanya tidak merasa stres?
Ini contoh bagus bagaimana innovation inovasi lokal bisa go global.
Kalau bisa dikendalikan lewat stimulus listrik, berarti ada control kontrol jarak jauh yang presisi. Keren banget teknologinya.
Mungkin bisa dikolaborasikan dengan drone untuk mapping awal sebelum kecoa dikirim.
Harusnya pemerintah lebih banyak dukung proyek-proyek seperti ini, bukan cuma seremonial.
Bayangin aja, masa depan penyelamatan bencana ada di tangan mahasiswa dengan ide simple sederhana tapi cerdas.