Membawa Indonesia ke Kampung Baru: Saat Kampus Hadir untuk Anak Migran
warm dan penuh semangat kolaborasi menyelimuti Kampung Baru, Malaysia, saat university meluncurkan program pengabdian internasional yang tak biasa. Bukan sekadar misi kemanusiaan, acara ini—diberi nama collaboration —menjadi simbol nyata bagaimana pendidikan bisa menyeberangi borders untuk menyentuh komunitas terpinggirkan. Dengan fokus pada anak-anak pekerja migran Indonesia, Unibos dan mitranya hadir bukan hanya membawa ilmu, tetapi juga rasa bangga menjadi Indonesia di tengah diaspora.
Program ini bukan hasil kerja tunggal, melainkan synergy kuat antara berbagai lini strategis: Direktorat Inovasi, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat Unibos, Politeknik Bosowa, Bosowa Property, Bosowa Education, hingga Sanggar Bimbingan Muhammadiyah Kampung Baru Malaysia. Ini menunjukkan bahwa perubahan sosial tak bisa dijalankan seorang diri. Seperti dikatakan oleh Sekretaris Unibos, Prof. Dr. Ir. Hadijah Mahyuddin, inspiring untuk membangun peradaban yang inklusif dan berdaya saing—bukan sekadar kewajiban administratif.
Dalam pidatonya, Prof. Hadijah menekankan bahwa inisiatif ini bukan hanya soal service , tetapi juga soal kehadiran: “Ini wujud nyata kepedulian dan tanggung jawab kita untuk terus hadir, berbagi, serta memberdayakan masyarakat Indonesia di mana pun berada.” Suaranya menggema, mengingatkan bahwa pendidikan bisa menjadi jembatan emosional bagi anak-anak yang tumbuh jauh dari tanah kelahiran. leadership Unibos terlihat bukan dari gedung megah, tetapi dari keberanian membawa kampus ke tengah komunitas migran.
Sesi knowledge menjadi puncak yang menyentuh hati: anak-anak diajak mengenal budaya, sejarah, dan nilai-nilai kebangsaan Indonesia melalui permainan tradisional yang interactive . Di tengah tawa dan sorak, benih cinta tanah air ditanamkan kembali. emotional dengan identitas kebangsaan pun diperkuat—bukan lewat hafalan, tapi lewat pengalaman. Bagi Unibos, ini bukan sekadar proyek jangka pendek, melainkan bagian dari global yang berorientasi pada kebermanfaatan nyata.
Wakil Rektor III Unibos, Prof. Dr. Nasrullah, menegaskan bahwa kegiatan ini memperluas network sekaligus memperkuat posisi kampus sebagai agen perubahan global. Tantangan migran bukan hanya ekonomi, tapi juga kultural—dan pendidikan bisa menjadi bentengnya. Dengan langkah konkret ini, Unibos tidak hanya menunjukkan commitment , tapi juga membuktikan bahwa kampus bisa menjadi ruang transformatif bagi siapa pun, bahkan di luar negeri. impact mungkin tak terukur hari ini, tapi bisa terasa dalam generasi mendatang.
migrant Pekerja migran sering terlupakan, tapi anak-anak mereka adalah masa depan. Ini langkah yang sangat menyentuh hati.
Bagus sih, tapi apakah program ini akan berkelanjutan? Jangan sampai cuma one-time sekali hadir lalu hilang.
Ini contoh nyata bagaimana perguruan tinggi bisa keluar dari menara gading. Kolaborasi lintas sektor kunci utamanya.
Senang lihat anak-anak ketawa main permainan tradisional. Identitas kebangsaan harus tetap hidup, meski di negeri orang.
Unibos makin eksis di kancah internasional. Tapi jangan lupa juga sama komunitas di kampung halaman ya.
Pengabdian yang inklusif dan berkelanjutan justru lahir dari pendekatan seperti ini—edukatif, bukan hanya memberi.
Kapan ya kampus lain mulai meniru? Ini lebih berarti daripada sekadar ceremony upacara seremonial.
Saya tinggal di Kampung Baru, acara ini benar-benar membawa harapan. Terima kasih, Unibos!