Jurnal Religi dari UIN Bandung Tembus Scopus, Pintu Dialog Global Terbuka Lebar
news proud datang dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, kampus yang kini semakin menancapkan presence akademiknya di kancah internasional. journal Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya resmi terindeks dalam Scopus, basis data academic paling bergengsi di dunia. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Scopus Title Evaluation Team, menandai sebuah tonggak penting dalam sejarah pengelolaan publikasi ilmiah di perguruan tinggi keagamaan Indonesia.
Keberhasilan ini bukan sekadar simbolik, melainkan bukti nyata bahwa kualitas research dan proses review sejawat di jurnal ini telah memenuhi standar global. Religious diterbitkan oleh Jurusan Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UIN Bandung, bekerja sama dengan ASAI (Asosiasi Studi Agama Indonesia), dan fokus pada kajian mendalam tentang religion , culture , dialog antarumat beragama, serta relasi agama dengan masyarakat dan media.
Yang paling mencerminkan arah internasionalisasi yang kuat adalah kehadiran kontributor dari enam negara dalam edisi terbaru jurnal ini. Angka tersebut bukan hanya menunjukkan diversity geografis, tetapi juga menandakan bahwa jurnal ini kini menjadi ruang dialogue akademik lintas batas. Setiap article yang terbit telah melalui proses seleksi ketat dan merupakan karya orisinal yang memperkaya wacana global.
Dengan tambahan ini, UIN Bandung kini memiliki delapan jurnal yang terindeks Scopus—prestasi langka yang menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap keunggulan akademik. Ini bukan sekadar angka, tapi cerminan dari transformasi sistemik dalam ekosistem publication ilmiah di kampus. Kini, gagasan dari Bandung tak hanya didengar di aula kampus, tapi juga di university dan pusat penelitian di seluruh dunia.
Akhirnya! recognition pengakuan internasional untuk jurnal dari kampus keagamaan.
Dari enam negara? Siapa saja yang berkontribusi? Semoga bukan cuma dari Asia Tenggara.
Ini langkah besar. Tinjauan sejawat yang ketat memang kunci utama kredibilitas.
Senang melihat dialog antaragama mulai diakui sebagai bidang ilmiah serius di kancah global.
Scopus itu susah masuknya. Harus konsisten agar tidak dicabut lagi nanti.
Mudah-mudahan ini mendorong dosen muda untuk menulis, bukan cuma ngajar. motivation Motivasi harus datang dari kampus.
Delapan jurnal terindeks? UIN Bandung mungkin lebih aktif riset daripada beberapa PTN besar.
Semoga jurnal lain di kampus keagamaan bisa mengejar. Ini bukan hanya soal reputasi, tapi juga impact dampak ide.