Harapan inklusi bagi ODHIV dan transpuan di Yogyakarta
Di tengah ruangan yang hening, moderator berbaju putih dengan tulisan "PRAM" di dadanya mulai berbicara. Pramono, pria 45 tahun dari Yogyakarta, bukan hanya memandu forum, tapi juga menyampaikan identity dan status kesehatannya sebagai person dengan HIV (ODHIV), tanpa rasa malu. Aksi terbukanya ini menjadi simbol perlawanan terhadap stigma yang masih membayangi komunitasnya, sekaligus upaya mewujudkan dignity bagi penyintas HIV dan transpuan di kota ini.
Pram mengingat masa kelam pada 2014, ketika berat badannya anjlok hingga 40 kg akibat diare berkepanjangan. Ia sempat divonis hanya punya waktu survival enam bulan. Namun kedisiplinan mengonsumsi obat Antiretroviral (ARV) dan pola hidup sehat membawanya pulih—kini berat badannya stabil di atas 80 kg. Ia kini menjadi manajer keuangan di Yayasan Kebaya Yogyakarta, lembaga yang mendukung inclusion kelompok rentan.
Namun jalan menuju penerimaan tak mulus. Pram diberhentikan dari empat pekerjaan karena harus izin rutin ke rumah sakit mengambil ARV—obat yang tidak bisa diwakilkan. Ia mengarang alasan kematian keluarga hingga akhirnya memilih terbuka, hanya untuk disodori surat dismissal . Di sisi lain, tubuhnya sendiri sempat menolak obat, membuatnya muntah-muntah. "Obat yang dimuntahkan saya minum lagi," katanya, menunjukkan resilience yang tak tergoyahkan.
Kisah serupa datang dari Ali Dani (37), ODHIV asal Bangka Belitung yang pernah kritis dan bergantung pada selang makanan selama enam bulan. Dukungan keluarga tanpa discrimination menjadi fondasi semangatnya. "Saya malu jika menyerah, padahal orang terdekat terus memberi encouragement ," ujarnya. Ali menemukan kembali makna hidup di Yogyakarta, kota yang mulai membuka ruang bagi social sosial transpuan dan ODHIV.
Bayangkan harus bolak-balik rumah sakit tiap bulan hanya untuk ambil obat, lalu dipecat karena jujur. Ini soal access akses kesehatan vs sistem kerja yang tidak manusiawi.
Pram minum obat yang dimuntahkan lagi? Itu bukan cuma disiplin, itu commitment komitmen hidup mati. Kita yang sehat saja sering bolos minum vitamin.
Tulisan "PRAM" di bajunya itu simbol keberanian. Di tengah stigma, tampil terbuka itu bentuk resistance perlawanan yang tenang tapi kuat.
Kerja dari rumah bisa jadi solusi. Banyak ODHIV bisa produktif kalau diberi flexibility keluwesan tanpa takut kehilangan pekerjaan.
Kenapa harus berbohong soal kematian keluarga hanya untuk izin ke rumah sakit? Ini menunjukkan betapa society masyarakat masih gagal memahami HIV.
Dukungan keluarga seperti Ali dapatkan itu langka tapi krusial. Tanpa itu, mental kesehatan jiwa bisa runtuh dulu sebelum fisik.