Membangun Harapan Inklusi ODHIV dan Transpuan Yogyakarta: Melawan Stigma dengan Karya Nyata
Di tengah pressure sosial yang tak kunjung reda, Yogyakarta menjadi tempat bagi para ODHIV dan transpuan untuk membuktikan bahwa hidup bisa tetap bermakna. Dengan perubahan drastis dalam cara mereka menunjukkan eksistensi, mereka tak lagi meminta belas kasihan, melainkan recognition lewat karya nyata. Langkah ini bukan sekadar perlawanan terhadap stigma, tapi juga upaya membangun trust dari masyarakat yang selama ini penuh prasangka.
Pramono, ODHIV yang dulu divonis hanya punya enam bulan untuk hidup, kini berdiri tegak sebagai manajer keuangan di Yayasan Kebaya. Ia mengonsumsi obat ARV dengan disiplin, menolak menyerah meski diberhentikan dari empat pekerjaan karena statusnya. Keberaniannya membuka identitas di forum publik bukan sekadar tindakan pribadi, tapi decision politis: menolak terus bersembunyi. Bahkan saat tubuhnya menolak obat, ia tetap memungut kembali yang termuntahkan—bukti nyata dari tekad hidup yang tak bisa dihentikan oleh risk atau penolakan.
Dona, Ketua Ikatan Waria Bantul, memilih jalan lain: kontribusi sosial yang tak terbantahkan. Dengan menginisiasi senam mingguan dan mengelola kas RT, ia menunjukkan bahwa transpuan bukan hanya ada di pinggir jalan atau dunia hiburan. Warga pun mulai memberinya support dengan memilihnya sebagai pengurus RT. Melalui usaha tata rias, ia bahkan mampu membantu keluarga dan mewujudkan impian ibunya. Ini bukan sekadar change peran, tapi transformasi dari objek stigma menjadi subjek pembangunan komunitas.
Yayasan Kebaya, yang telah mendampingi hampir 400 orang selama 22 tahun, menjadi poros perubahan ini. Dengan pelatihan membatik dan koperasi, mereka menekankan independence ekonomi sebagai jalan keluar dari ketergantungan. Ruli Malay, pembina yayasan, menekankan peran media dalam membentuk pandangan publik, serta pentingnya regulasi yang melindungi kelompok rentan. Tanpa legal protection , kata dia, perjuangan ini akan selalu bertemu tembok. Namun, setiap senam pagi yang dipimpin Dona, setiap laporan keuangan yang ditandatangani Pramono, adalah bentuk resistance yang tenang tapi tak terbendung.
Bayangkan harus keluar dari kerja cuma karena perlu ambil obat. Ini bukan soal kesehatan semata, tapi discrimination diskriminasi sistemik yang masih nyata.
Dona jadi pengurus RT? Luar biasa. Ini bukti kalau kalau masyarakat sebenarnya bisa terbuka, asal ada proof bukti nyata kontribusi.
22 tahun Yayasan Kebaya berdiri, tapi regulasi anti-diskriminasi belum masuk Prolegnas? Negara kapan mau hadir sungguhan untuk yang paling vulnerable rentan?
Pramono muntah obat tapi tetap minum lagi… Bayangin mental strength kekuatan mental yang dibutuhkan. Bukan cuma fisik yang melawan virus, tapi jiwa juga melawan stigma.
Dulu saya pikir waria cuma cari uang di lampu merah. Ternyata banyak yang kerja keras, bantu warga, bahkan bantu orang tua. Ini perspective pandangan harus berubah.
Media memang punya power kekuatan besar. Kalau selalu tampilkan narasi negatif, masyarakat akan terus salah paham. Butuh lebih banyak cerita seperti ini.