Purbaya: Ekonomi Tumbuh, Tapi Kenapa Saya yang Dibully?
Di tengah badai global yang mengguncang perekonomian dunia, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berdiri tegak dengan klaim yang berani: Indonesia justru sedang melaju. Di hadapan para investor di investor Main Hall BEI, Jakarta Selatan, dia memaparkan angka yang sulit diabaikan — pertumbuhan ekonomi mencapai growth 5,39%. Bukan sekadar bertahan, tapi berlari. Bahkan, dia berani memproyeksikan capaian lebih tinggi di quarter pertama: 5,5% ke atas. Bagi Purbaya, ini bukan retorika belaka, melainkan bukti nyata bahwa arah kebijakan ekonomi pemerintah berjalan di jalur yang nggak main-main.
Pernyataan ini bukan tanpa latar ketegangan. Di balik angka-angka yang mengilap, Purbaya mengakui dirinya kerap menjadi sasaran criticism di berbagai media. Tapi justru di situlah letak dramanya: ekonomi membaik, namun citra sang menteri justru tergerus. Baginya, ini paradoks yang harus dihadapi dengan kepala dingin. ‘Kalau ekonominya bagus terus, walaupun sekarang banyak berita negatif yang jelek-jelekin saya katanya, tapi saya tahu betul, yang kita jalankan nggak main-main,’ katanya dengan tegas. Bagi dia, pondasi makroekonomi yang kuat jauh lebih penting daripada popularitas jangka pendek.
Kunci dari pencapaian ini, menurut Purbaya, adalah reformasi nyata di tubuh Kementerian Keuangan. Bukan sekadar wacana, tapi aksi yang terukur. Salah satunya adalah lonjakan penerimaan pajak sebesar 20% dalam tiga bulan pertama tahun ini. Angka ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari perbaikan sistem dan disiplin pelaksanaan. ‘Reformasi kita perbaiki, reformasi betulan,’ tegasnya. Bahkan, dia menyebut Bea Cukai juga tengah diperbaiki, menunjukkan bahwa transformasi ini menyeluruh, bukan hanya di satu sector . Visinya jelas: bangun kepercayaan pasar lewat kejelasan dan konsistensi kebijakan.
Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: mampukah angka menang atas narasi? Di era di mana persepsi sering kali lebih kuat dari data, Purbaya berada di garis depan pertarungan antara fakta dan opini. Pertumbuhan ekonomi yang stabil bisa menjadi landasan bagi penguatan IHSG, tapi tanpa dukungan publik yang percaya, langkah reformasi bisa terhambat. Di sinilah peran komunikasi menjadi sama pentingnya dengan kebijakan fiskal. Bagi pemerintah, tantangan ke depan bukan hanya menjaga angka 5,5%, tapi juga meraih hati rakyat yang masih skeptical . Dan itu, mungkin, adalah ujian terberat dari semua.
20% kenaikan pajak dalam 3 bulan? Itu significant angka yang besar, tapi tolong jelaskan dari sektor mana saja. Jangan sampai hanya beban pengusaha kecil yang makin berat.
IHSG butuh lebih dari angka makro. Investor butuh kepastian hukum, bukan sekadar optimism optimisme di podium.
Anak saya bilang Purbaya sering disebut di TikTok, tapi kebanyakan yang negative negatif. Padahal kalau ekonomi bagus, kenapa gak diangkat beritanya?
Reformasi Bea Cukai? Itu perubahan besar kalau benar-benar terealisasi. Tapi butuh monitoring ketat agar tidak cuma jadi wacana.
Menteri bisa saja bilang nggak peduli dikritik, tapi rakyat kecil peduli sama harga minyak dan sembako. Itu yang dirasakan, bukan angka pertumbuhan.
Kalau kuartal I tembus 5,5%, itu sinyal kuat. Tapi jangan lupa, proyeksi bisa meleset kalau ada gejolak eksternal.
Dulu waktu krisis 98, katanya ekonomi juga bagus-bagus saja. Sampai tiba-tiba semuanya jatuh. Jadi saya tetap hati-hati dengan angka-angka.
Purbaya lawan arus. Di saat banyak yang complain ngomel, dia fokus kerja. Respect, meski belum tentu setuju.